Oleh: Lukman Jalu
PADA 26 Januari 2026, Immanuel Ebenezer—Noel—mengeluarkan satu kalimat yang ketika itu mudah dianggap sebagai ocehan orang yang sedang berhadapan dengan perkara hukum. Ia memperingatkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa agar berhati-hati. Katanya, Purbaya akan “dinoelkan” karena dianggap mengganggu “pesta” kepentingan tertentu. Noel bahkan mengaku memperoleh informasi “A1”, meskipun tidak pernah menjelaskan sumber dan mekanismenya secara terbuka.
Purbaya menanggapinya santai. Intinya sederhana, yakni Noel menerima uang, dirinya tidak. Selama tidak melakukan korupsi, Purbaya merasa kecil kemungkinan mengalami nasib serupa. Ia bahkan sempat mengatakan bahwa secara teoritis seseorang memang bisa saja dijebak, misalnya uang tiba-tiba diletakkan di kendaraan, tetapi tentu harus ada motif dan latar belakangnya.
Delapan bulan kemudian, Purbaya memang tidak ditangkap KPK. Tidak ada uang dalam mobil. Tidak ada operasi tangkap tangan. Tidak ada rompi tahanan. Ia hanya dicopot dari jabatan Menteri Keuangan. Dan di situlah ucapan Noel tiba-tiba kehilangan unsur komedinya.
Harus jujur dikatakan, bahwa Noel tidak pernah secara spesifik meramalkan Purbaya akan diberhentikan Presiden pada 14 September. Jadi jangan memelintir sejarah hanya agar ramalan terdengar sempurna. Tetapi substansi peringatannya jauh lebih menarik daripada mekanismenya, bahwa Purbaya, menurut Noel, sedang memasuki wilayah kepentingan yang bisa membuat dirinya menjadi sasaran, dan hari ini kalimat itu layak dibaca kembali.
Karena sebelum dicopot, Purbaya memang sedang menyentuh banyak meja sekaligus. Ia mendorong likuiditas besar ke perbankan, bersinggungan dengan pendekatan Bank Indonesia, membuka persoalan Rp120 triliun Danantara ke ruang publik, terlibat dalam desain penyelesaian Whoosh, serta melakukan perombakan ratusan pejabat Kementerian Keuangan.
Orang waras tentu tidak boleh langsung menyimpulkan semua itu sebagai konspirasi. Tetapi orang yang terlalu waras sampai menolak melihat adanya kepentingan dalam politik juga biasanya cocok ditempatkan di museum.
Yang membuat pernyataan Noel menarik bukan karena ia terbukti memiliki bola kristal. Noel justru berbicara dengan naluri seorang aktivis politik, bahwa ketika sebuah kebijakan mulai mengganggu terlalu banyak meja makan, yang diperiksa bukan hanya kebijakannya, tetapi juga orang yang membawa kebijakan itu. Dan rupanya Purbaya sedang mengetuk cukup banyak meja.
Ia mengetuk Danantara dengan Rp120 triliun, mengetuk Whoosh dengan restrukturisasi kewajiban, mengetuk birokrasi Kemenkeu melalui perombakan jabatan, mengetuk pasar melalui kebijakan fiskal agresif.
Kadang seorang pejabat tidak perlu melakukan kesalahan pidana untuk menjadi tidak nyaman bagi sebuah sistem. Cukup membuat terlalu banyak orang harus mengubah posisi duduk.
Noel tampaknya memahami psikologi kekuasaan itu. Karena itu saya justru memberi satu kredit kepada Noel, terbukti ia membaca risiko politik Purbaya jauh sebelum mayoritas orang melihatnya.
Apakah Noel mengetahui sebuah skenario tertentu? Kita tidak tahu.
Apakah benar ada “bandit” yang terganggu seperti istilahnya? Tidak ada bukti yang cukup untuk mengatakan demikian.
Tetapi apakah peringatan bahwa Purbaya sedang memasuki wilayah berbahaya ternyata masuk akal? Setelah 14 September, sulit menjawab tidak.
Reuters melaporkan Purbaya kemudian mengakui dirinya kecewa atas pencopotan tersebut, tetapi pada tingkat tertentu sudah memperkirakan kemungkinan dirinya diganti karena adanya perbedaan dengan sejumlah pejabat, meskipun ia menyatakan arah kebijakannya sejalan dengan Presiden. Nah, di situlah ucapan Noel menjadi menarik.
Ia mungkin keliru mengenai cara Purbaya akan “dinoelkan”. Tetapi ia membaca arah anginnya dengan cukup presisi. Purbaya tidak masuk tahanan. Ia keluar dari kabinet.
Jalannya berbeda, tetapi pesan politiknya hampir sama, bahwa ketika seseorang mulai mengganggu terlalu banyak kepentingan, jangan hanya menghitung apakah ia benar atau salah.
Hitung juga berapa banyak kursi yang mulai tidak nyaman karena keberadaannya. Dan untuk yang satu ini, harus diakui, Noel melihatnya lebih dulu.


