Jakarta – Poros Wartawan Jakarta (PWJ) mengecam pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono yang menyebut wartawan sebagai salah satu pihak yang membuat kasus keracunan akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) ramai di media sosial. PWJ mendesak Sudaryono mencabut pernyataan tersebut dan meminta maaf kepada kalangan wartawan.
Ketua PWJ Zul Sikumbang menyampaikan hal itu melalui keterangan tertulis, Selasa malam (15/9/2026). Ia menilai pernyataan Sudaryono muncul karena BGN kewalahan mengatasi rentetan kasus keracunan MBG yang menurutnya telah menimpa sekitar 50 ribu pelajar di berbagai provinsi.
“PWJ mengecam keras pernyataan Sudaryono yang menyebutkan bahwa wartawan sebagai salah satu pihak yang ikut andil meramaikan kasus MBG di media sosial,” kata Zul.
Zul menambahkan, pernyataan mantan Wakil Menteri Pertanian itu merendahkan profesi wartawan yang bekerja sesuai kode etik jurnalistik. Ia menegaskan tuduhan tersebut melukai dan menghancurkan kredibilitas kerja jurnalistik.
Atas dasar itu, PWJ meminta Sudaryono mencabut pernyataannya, memberikan klarifikasi, sekaligus meminta maaf secara terbuka kepada wartawan.
Sebelumnya, Sudaryono menyatakan program MBG secara keseluruhan tidak bermasalah. Ia menilai ramainya sorotan terhadap MBG di media sosial dipengaruhi sejumlah pihak, termasuk guru, orang tua siswa, wartawan, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM), yang menurutnya bermuatan ideologis dan politis.
Sebagaimana diketahui, Sudaryono menjabat Kepala BGN sejak 22 Juli 2026, menggantikan Nanik S Deyang yang mengundurkan diri di tengah persoalan dugaan korupsi di tubuh lembaga tersebut. Sejak awal menjabat, Sudaryono langsung dihadapkan pada rentetan kasus dugaan keracunan makanan program MBG di berbagai daerah, mulai dari Pasuruan dan Sidoarjo (Jawa Timur), Tanggamus (Lampung), Rembang (Jawa Tengah), hingga Agam (Sumatera Barat). Tercatat setidaknya 12 kasus dugaan keracunan MBG terjadi sejak Sudaryono menjabat hingga awal September 2026, dengan total korban lebih dari 2.800 orang.
Salah satu kasus terbesar terjadi di Pondok Pesantren Mambaul Hakim, Sidoarjo, pada 1 September 2026, yang diduga menyebabkan ratusan santri keracunan. Sudaryono menyebut kasus tersebut sebagai bentuk kelalaian yang disengaja dan mencopot kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab atas dapur MBG bersangkutan. Rentetan kasus keracunan itu diakui Sudaryono membuat internal BGN sangat terpukul, di tengah upaya lembaga tersebut membenahi tata kelola pasca-pergantian pimpinan.
Di tengah tekanan publik itu, pernyataan Sudaryono yang menyinggung peran wartawan justru menuai kritik luas. Ia sebelumnya juga mengungkapkan bahwa kritik terhadap MBG turut datang dari internal BGN sendiri, setelah dirinya melakukan penertiban terhadap petugas yang dianggap melakukan kesalahan, dan menyebut telah menutup hampir 2.000 dapur MBG yang dinilai bermasalah. Selain PWJ, organisasi guru P2G juga mendesak Sudaryono meminta maaf dan mundur dari jabatannya karena dinilai gagal menghentikan kasus keracunan sekaligus menyalahkan guru, orang tua, dan wartawan yang mengkritik maupun memberitakan persoalan MBG.


