Jakarta – Pagi itu, Kamis (12/12/2025), suasana kampus Universitas Trisakti di Jakarta dipenuhi semangat solidaritas. Puluhan relawan berdiri tegak, tas ransel penuh perlengkapan medis dan logistik di punggung mereka. Mereka bukan tentara, bukan pula petugas penanganan bencana profesional—mereka adalah dosen, dokter, dan mahasiswa yang rela meninggalkan kenyamanan untuk mengulurkan tangan kepada saudara sebangsa di Aceh yang tengah berjuang melawan dampak banjir dan longsor.
Program Usakti untuk Sumatra kembali hadir sebagai wujud kepedulian kampus terhadap sesama. Kali ini, sasarannya adalah masyarakat Aceh yang tengah dilanda bencana. Tim gabungan yang terdiri dari dokter-dokter Universitas Trisakti, Presiden Mahasiswa, perwakilan TBMT, BEM Fakultas Kedokteran, hingga anggota unit pecinta alam Aranyacala siap menempuh perjalanan panjang menuju titik-titik terdampak.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan yang terlibat dalam misi kemanusiaan ini. Universitas Trisakti selalu siap hadir membantu masyarakat saat terjadi bencana,” ujar Rektor Universitas Trisakti, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA, IPU, ASEAN Eng., saat pelepasan tim. Di sampingnya berdiri Wakil Rektor III Ir. Yoska Oktaviano, MT, Dekan Fakultas Kedokteran Dr. dr. Yenny, Sp.FK, dan Wakil Dekan III dr. Adriani K.M., M.Biomed, AIFO, yang turut memberikan dukungan penuh.
Solidaritas Tanpa Batas
Yang menarik dari misi kali ini adalah keberagaman latar belakang para relawan. Ada dokter yang terbiasa bekerja di ruang praktik ber-AC, mahasiswa yang baru pertama kali terjun ke medan bencana, hingga anggota pecinta alam yang sudah terlatih menghadapi medan sulit. Namun, mereka semua bersatu dengan satu tujuan: meringankan beban masyarakat Aceh.
Selama empat hari ke depan hingga 16 Desember 2025, tim akan bergerak ke berbagai titik terdampak bencana. Tugas mereka bukan sekadar menyalurkan bantuan, tetapi juga memberikan layanan kesehatan darurat—terutama pemeriksaan penyakit infeksi yang kerap muncul pasca banjir—melakukan pendataan kebutuhan warga, dan menyerahkan logistik berupa obat-obatan.
Lebih dari Sekadar Bantuan
Program Usakti untuk Sumatra bukan hanya soal memberikan obat atau makanan. Ini tentang kehadiran, tentang menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian. Keterlibatan lintas unit—tenaga medis, organisasi mahasiswa, dan pecinta alam—menjadi bukti nyata bahwa solidaritas civitas academica Universitas Trisakti bukan sekadar jargon, melainkan aksi nyata.
Sinergi ini mencerminkan bagaimana dunia kampus dapat menjadi motor penggerak kemanusiaan. Mahasiswa belajar langsung tentang empati dan kepemimpinan, dosen menunjukkan dedikasi di luar ruang kelas, dan institusi membuktikan komitmennya pada masyarakat.
Universitas Trisakti berharap program ini tidak berhenti di Aceh. Usakti untuk Sumatra diharapkan dapat terus menjadi gerakan kemanusiaan berkelanjutan yang memberikan dampak positif bagi warga terdampak bencana di berbagai wilayah Indonesia. Karena pada akhirnya, nilai sebuah institusi pendidikan bukan hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kepeduliannya terhadap sesama.


