Washington — Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) melaporkan sekitar 140 anggota militer mengalami luka-luka sejak dimulainya operasi militer melawan Iran pada 28 Februari 2026.
Juru bicara Pentagon Sean Parnell menyatakan sebagian besar cedera yang dialami para prajurit selama Operasi Epic Fury bersifat ringan. Sebanyak 108 prajurit telah kembali bertugas, sementara delapan lainnya masih menjalani perawatan medis intensif dalam kondisi kritis.
“Sejak dimulainya Operasi Epic Fury, sekitar 140 anggota militer AS terluka selama 10 hari serangan berkelanjutan,” kata Parnell, dikutip dari Reuters, Rabu (11/3/2026).
Selain korban luka, militer AS mengonfirmasi tujuh personel tewas akibat serangan Iran di berbagai wilayah Timur Tengah. Satu anggota militer tambahan meninggal di Kuwait karena insiden terkait kesehatan pada Senin, sehingga total korban jiwa menjadi delapan orang.
Serangan Iran merupakan balasan atas kampanye pengeboman AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei beserta lebih dari 1.250 orang lainnya. Iran kemudian melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump menyatakan perang hampir selesai, namun pejabat Gedung Putih menegaskan operasi militer akan terus berlanjut hingga seluruh target tercapai. Target tersebut meliputi penghancuran kemampuan rudal Iran, pelemahan angkatan lautnya, pencegahan kepemilikan senjata nuklir, serta pelumpuhan jaringan kelompok sekutu Iran di kawasan.
Trump juga menegaskan bahwa keputusan mengenai kapan Iran dinyatakan menyerah tanpa syarat sepenuhnya akan ditentukan oleh dirinya sendiri.


