Jakarta – Harga minyak dunia melonjak setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke wilayah selatan Iran pada Selasa (26/5/2026). Minyak mentah Brent naik lebih dari 3 persen dan ditutup di level US$ 99,58 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) ditutup di US$ 93,89 per barel, dikutip dari CNBC International, Rabu (27/5/2026).
Militer AS menyebut serangan tersebut sebagai “tindakan membela diri” dengan target lokasi peluncuran rudal dan kapal yang diduga hendak memasang ranjau di kawasan strategis. Merespons hal itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan akan membalas setiap pelanggaran gencatan senjata. Iran juga mengklaim telah mendeteksi dan menghadapi drone serta jet tempur F-35 AS yang memasuki wilayah udaranya.
Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap keamanan Selat Hormuz, jalur distribusi minyak dunia yang strategis. Presiden AS Donald Trump sebelumnya memberi sinyal bahwa kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz akan segera tercapai, namun hingga kini belum ada pengumuman resmi.
Trump menyatakan negosiasi dengan Iran masih berjalan baik, namun memperingatkan AS dapat kembali melancarkan aksi militer jika pembicaraan gagal. “Ini hanya akan menjadi kesepakatan besar untuk semua pihak, atau tidak ada kesepakatan sama sekali,” tulis Trump di media sosialnya.
Bank investasi UBS menilai pasar minyak global mulai mengalami tekanan serius akibat gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz. Stok minyak global dilaporkan turun sekitar 246 juta barel sepanjang Maret dan April 2026. UBS memperingatkan pasar saat ini berada dalam kondisi kekurangan pasokan yang cukup berat, dengan permintaan yang tetap tinggi di tengah gangguan distribusi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.


