Batam – Wakil Menteri Pendidikan Kabinet Merah Putih, Fajar Riza Ul Haq, mendorong penguatan program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di Kepulauan Riau sebagai salah satu solusi menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS). Hal itu disampaikannya saat berkunjung ke SMA Negeri 20 Batam, Rabu pagi.
Dalam kunjungan tersebut, Fajar menyaksikan langsung pelaksanaan PJJ yang dijalankan SMA Negeri 20 Batam sebagai sekolah mitra. Program ini ditujukan bagi anak usia sekolah yang memiliki kendala sehingga tidak dapat mengikuti pendidikan SMA secara reguler.
“Tadi saya berbincang dengan dua orang murid PJJ yang memang mengalami problem ekonomi maupun sosial, sehingga tidak bisa menempuh pendidikan reguler di SMA pada umumnya,” ujar Fajar.
Ia menjelaskan, pemerintah kini menyediakan alternatif layanan pendidikan formal jenjang SMA melalui PJJ, yang memungkinkan siswa mengikuti pendidikan secara penuh tanpa pembelajaran tatap muka. “Menurut mereka model pembelajaran PJJ ini mudah, menyenangkan, dan para pendamping gurunya juga cukup komunikatif dalam membantu,” katanya.
Fajar menjelaskan, program PJJ secara nasional berbasis sekolah induk. Untuk Kepri, sekolah induk berada di tingkat provinsi di Tanjungpinang dan bermitra dengan sejumlah sekolah di kabupaten/kota, termasuk SMA Negeri 20 Batam.
“Kita ingin mengurangi tingginya angka anak tidak sekolah. Pakar di provinsi menyampaikan tantangan ATS cukup rumit karena daerah kepulauan. Justru dengan PJJ kita memberikan alternatif supaya anak-anak kita yang tidak terjangkau selama ini bisa kita jangkau,” jelasnya.
Ia menegaskan, PJJ berbeda dengan program pendidikan kesetaraan seperti Paket A, B, dan C karena PJJ merupakan bagian dari pendidikan formal. “PJJ ini adalah pendidikan formal, tetapi non-tatap muka 100 persen. Kita juga punya pendidikan kesetaraan, Kejar Paket A, B, dan C, itu kan non-formal. Kita akan mengaktifkan semua jalur untuk mengurangi tingginya ATS,” katanya.
Fajar juga mengajak pemerintah daerah, perangkat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga kalangan jurnalis ikut menyosialisasikan keberadaan PJJ kepada masyarakat. Ia bahkan meminta dua siswa PJJ yang ditemuinya di SMA Negeri 20 Batam menjadi duta untuk menyosialisasikan program tersebut kepada anak-anak lain yang terkendala melanjutkan pendidikan.
“Saya pesan kepada dua murid kita untuk menjadi duta PJJ. Banyak anak usia remaja 16 sampai 18 tahun tidak bisa lanjut SMA, ada yang karena menikah muda, kesulitan ekonomi, atau lokasi geografis yang susah dijangkau,” ucapnya.
Selain PJJ, Fajar juga menyoroti program revitalisasi sekolah. Pemerintah menargetkan pada 2028 tidak ada lagi sekolah yang masuk kategori rusak berat. “Tahun ini pemerintah menggelontorkan anggaran untuk 71 ribu sekolah, tahun depan ditargetkan untuk 100 ribu sekolah,” katanya. Ia menyebut ada tiga prioritas utama dalam pemberian bantuan revitalisasi, yakni sekolah dengan kondisi rusak berat, sekolah di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah di wilayah rawan bencana.
Terkait kondisi pendidikan di Batam sebagai kawasan industri, Fajar turut menanggapi persoalan lulusan SMA dan SMK yang masuk dalam angka pengangguran. Ia menyebut pertumbuhan SMK di Batam cukup baik dan sebagian lulusannya telah terserap ke dunia industri. “Link and match antara SMK dengan industri menjadi salah satu prioritas kita. Saya bersyukur di Batam ini cukup banyak industri yang berpihak kepada pendidikan putra-putri kita,” katanya.
Fajar mengakui tidak seluruh lulusan SMK dapat langsung terserap industri, namun pemerintah terus berupaya memperbaiki kualitas pendidikan vokasi sekaligus membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. “Tidak semua anak bisa tertampung di industri karena mungkin juga problem keterbatasan kebutuhan. Tapi mereka juga bisa mencari ruang-ruang tempat yang lain, tidak hanya di Batam,” ujarnya.
Ia menambahkan, berdasarkan data nasional, angka pengangguran lulusan SMK mengalami penurunan pada tahun ini. “Memang ini kita bertahan. Pemerintah sedang menyiapkan SMK-nya kita perbaiki, lapangan pekerjaannya kita buka,” pungkasnya.


