Jakarta – Festival film MADFest Merah Putih (Indonesia) dan The Working Class Film Festival (WCFF) yang berbasis di Sheffield, Inggris, membangun jejaring internasional untuk mengangkat isu kelas pekerja melalui medium sinema. Kedua festival ini sama-sama menempatkan diri sebagai panggung alternatif di luar industri film arus utama yang selama ini mengukur keberhasilan karya dari capaian komersial dan hierarki kompetisi berhadiah.
Sekretaris Panitia Pelaksana MADFest Merah Putih, Toto Soegriwo, menjelaskan bahwa kedua festival memiliki cara pandang yang sejalan, yakni berdiri di atas asas kesetaraan, solidaritas kelas pekerja, serta penolakan terhadap eksploitasi dan hierarki kapitalistik dalam medium seni.
“MADFest Merah Putih dan Working Class Film Festival Sheffield bukanlah dua entitas yang secara kebetulan memiliki tema mirip. Keduanya adalah dua sisi dari mata uang yang sama dalam gerakan sinema kelas pekerja internasional,” kata Toto.
Menurut catatan panitia, WCFF 2027 secara resmi menyatakan tidak akan memberikan penghargaan kompetitif kepada peserta. Dalam pernyataannya, WCFF menegaskan, “In the spirit of working class solidarity, no prizes will be given. All works included are presented as a lateral and vital part of the festival.”
Toto menyampaikan, pendekatan tanpa hierarki penghargaan tersebut sejalan dengan semangat yang diusung MADFest Merah Putih melalui program Anugerah Aspirasi, yang menempatkan setiap karya secara sejajar tanpa memperlombakan mana yang “terbaik”.
“Dengan menggantikan pola kompetisi kapitalistik menjadi ruang kesetaraan lateral, kami ingin membuktikan bahwa film dapat berfungsi kembali sebagai instrumen perjuangan, pembebasan, dan penyambung suara kelas pekerja melintasi batas-batas negara,” ujarnya.
Ia menyebut filosofi yang dipegang MADFest Merah Putih tertuang dalam moto festival: “Kamera menggantikan megafon, layar menggantikan jalanan, dan visual menggantikan slogan.”
Toto juga menjelaskan momentum pelepasan dua film karya MADFest Merah Putih, yakni “Kandang Yang Tak Menunduk” dan “Antrian Nomor Kematian”, untuk berkompetisi di WCFF Sheffield yang berlangsung Minggu, 6 September 2026. Ketua Panitia Pelaksana MADFest Merah Putih, Ensadi Joko Santoso, dalam acara pelepasan tersebut menyampaikan bahwa fokus festival terletak pada bagaimana realitas kehidupan pekerja, isu BPJS, hingga pertahanan ekonomi lokal dan lingkungan dapat didokumentasikan dan disuarakan melalui film.
Sementara itu, Deputi Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh yang juga Ketua Penyelenggara MADFest Merah Putih 2026, Sonny Pudjisasono, menyatakan bahwa sejak awal karya-karya unggulan MADFest Merah Putih memang diarahkan untuk tampil di panggung internasional, termasuk melalui WCFF Sheffield.
Toto menambahkan, kerja sama ini menunjukkan bahwa isu ketidakadilan birokrasi, eksploitasi lingkungan, dan perjuangan martabat hidup yang dialami pekerja di Indonesia memiliki kesamaan dengan pengalaman kelas pekerja di Inggris maupun negara lain.
“Isu ketidakadilan birokrasi, eksploitasi lingkungan, dan perjuangan martabat hidup yang dirasakan pekerja di Indonesia memiliki resonansi langsung dengan pengalaman kelas pekerja di Inggris dan seluruh dunia. Tidak ada superioritas budaya; karya pekerja berkembang dalam satu jejaring solidaritas yang sama,” pungkas Toto.
Berdasarkan informasi dari situs resmi WCFF, festival yang digelar di Showroom Cinema, Sheffield, itu membuka ruang bagi sineas dan narasi kelompok pekerja yang kerap terpinggirkan dalam industri film arus utama. Festival ini juga membebaskan biaya pendaftaran bagi pembuat film dengan keterbatasan finansial serta mendukung representasi latar belakang pekerja dalam kurasi filmnya, yang mencakup beragam genre mulai dari fiksi ilmiah, horor, hingga karya seni bergerak (moving image).


