Jakarta — Ketua Umum Barisan Rakyat Nusantara (BaraNusa) Adi Kurniawan menyatakan dugaan keterlibatan pihak-pihak yang dikaitkan dengan Hercules dan organisasi masyarakat (ormas) GRIB Jaya dalam kasus penganiayaan yang menewaskan pedagang cermin Bambang Setiawan berpotensi menimbulkan dampak politik, termasuk terhadap citra Presiden Prabowo Subianto, apabila kasus tersebut tidak ditangani secara transparan dan tegas.
“Kalau benar ada keterlibatan pihak-pihak yang dikaitkan dengan Hercules maupun GRIB Jaya dalam kasus Bambang Setiawan, ini bukan hanya persoalan hukum. Ada persoalan kepercayaan publik yang harus dijawab secara terbuka,” ujar Adi.
Ia menegaskan aparat penegak hukum harus bekerja berdasarkan bukti dan fakta penyidikan, bukan berdasarkan tekanan politik maupun kedekatan dengan kelompok tertentu. Menurutnya, siapa pun yang terbukti terlibat harus diproses sesuai hukum tanpa pandang bulu.
“Jangan sampai masyarakat melihat ada kelompok tertentu yang merasa kebal hukum. Kalau memang terbukti terlibat, siapapun orangnya harus bertanggung jawab. Sebaliknya, kalau tidak terbukti, jangan pula seseorang dikorbankan hanya karena tekanan opini publik,” tegasnya.
Adi menambahkan, kasus tersebut menjadi ujian bagi pemerintah dan kepolisian dalam menunjukkan penegakan hukum yang profesional, terutama karena nama Presiden Prabowo dapat ikut terseret dalam persepsi publik apabila kelompok yang dianggap dekat dengan lingkaran kekuasaan tersangkut perkara kekerasan.
“Presiden Prabowo tidak boleh dibebani oleh perilaku individu maupun kelompok yang kemudian dikait-kaitkan dengan kekuasaan. Justru karena itu, pemerintah harus memastikan hukum ditegakkan secara transparan,” katanya.
Ia menilai citra pemerintahan tidak hanya dibangun melalui kebijakan ekonomi dan pembangunan, tetapi juga melalui kemampuan negara memberikan rasa aman dan keadilan kepada masyarakat.
“Kalau kasus seperti ini tidak dituntaskan secara terang-benderang, yang tergerus bukan hanya kepercayaan terhadap aparat penegak hukum, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah,” kata Adi.
BaraNusa meminta Polda Metro Jaya mengusut perkara tersebut secara profesional, membuka fakta penyidikan kepada publik sesuai ketentuan hukum, serta memastikan seluruh pihak yang terbukti terlibat diproses tanpa diskriminasi.
“Negara tidak boleh kalah oleh premanisme. Tetapi negara juga harus memastikan proses hukum berjalan berdasarkan bukti, bukan tuduhan. Itu yang kami tuntut,” tutupnya.
Kronologi Kasus Bambang Setiawan
Bambang Setiawan adalah seorang pedagang cermin yang menjadi korban pengeroyokan di kawasan Pejompongan, Jakarta, saat kericuhan pecah pascaaksi demonstrasi pada Kamis, 27 Agustus 2026. Ia sempat tidak sadarkan diri dan dievakuasi ke RS TNI AL Dr. Mintohardjo sebelum akhirnya meninggal dunia.
Polda Metro Jaya sebelumnya menyebut ratusan orang diamankan terkait kericuhan tersebut, termasuk anak di bawah umur, dan penyidik masih mendalami pihak yang diduga menjadi penggerak, perekrut, maupun pembiaya kerusuhan.
Dugaan keterlibatan ormas GRIB Jaya mencuat setelah muncul sejumlah laporan mengenai keberadaan massa yang diduga terkait organisasi tersebut di beberapa titik kericuhan, termasuk laporan mengenai lima truk yang diduga mengangkut massa GRIB Jaya di kawasan Slipi serta dugaan pemukulan terhadap sejumlah warga dan pengemudi ojek online. Pihak GRIB Jaya sendiri telah membantah tudingan sebagai dalang kerusuhan 27 Agustus.
Sejumlah kalangan, termasuk BaraNusa, sebelumnya telah mendesak Polda Metro Jaya mengusut secara menyeluruh dugaan keterlibatan ormas dalam rangkaian kekerasan tersebut, tanpa hanya berhenti pada peserta aksi yang ditangkap.


