Batam – Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kepulauan Riau masih menelusuri identitas seorang perempuan bernama Susi yang diduga menjadi korban penyekapan di Kota Myawaddy, Myanmar. Perempuan tersebut viral di media sosial setelah muncul dalam sebuah video bersama seorang wanita lain bernama Ayu yang disebut berasal dari Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Dalam video itu, keduanya terlihat diborgol menggunakan kabel pengikat (cable ties). Susi juga tampak memperlihatkan luka pada bagian kakinya sambil memohon bantuan pemerintah Indonesia agar dapat dipulangkan.
Kepala BP3MI Kepri, Kombes Pol Imam Riyadi, mengatakan pihaknya telah mendatangi kawasan Pelantar I, Tanjungpinang, yang diduga menjadi lokasi tempat tinggal keluarga perempuan tersebut. Namun, hasil penelusuran di lapangan belum menemukan keluarga maupun kerabat yang sesuai dengan identitas dalam video viral tersebut.
“Kita tanya ke Ketua RW, tidak ada keluarga yang namanya Susi,” kata Imam, Senin (20/7).
Imam mengatakan pihaknya masih terus melakukan pendalaman untuk memastikan identitas perempuan tersebut, termasuk menelusuri apakah yang bersangkutan pernah tinggal di Tanjungpinang atau wilayah lain di Kepulauan Riau.
“Masih kita dalami, mulai dari dia pernah tinggal di Tanjungpinang atau tidak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pengelolaan Perbatasan Daerah (BP2D) Kepri, Doli Boniara, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri serta BP3MI Kepri untuk menindaklanjuti video yang beredar. Meski demikian, hingga kini pemerintah belum dapat memastikan bahwa perempuan yang mengaku berasal dari Tanjungpinang tersebut benar merupakan warga Kepulauan Riau.
“Saat ini masih dalam proses penelusuran. Kami mengimbau apabila ada keluarga di Kepri yang merasa mengenali korban, segera melapor ke BP3MI atau BP2D Kepri,” kata Doli.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat agar tidak langsung mempercayai seluruh informasi yang beredar di media sosial sebelum proses verifikasi selesai dilakukan. Saat ini, penelusuran terhadap identitas korban maupun kronologi kejadian masih terus berlangsung.


