Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi NasDem Rajiv meminta pemerintah memasukkan perlindungan satwa sebagai bagian penting dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, yang dinilai tak hanya mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat, tetapi juga habitat serta keberlangsungan satwa dan tumbuhan endemik.
Rajiv mengatakan Kalimantan merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi yang menjadi habitat berbagai satwa dan tumbuhan langka, seperti orangutan, bekantan, burung rangkong, pohon ulin, hingga beragam spesies anggrek.
“Karhutla tidak hanya menghilangkan pepohonan, tetapi juga sumber makanan, air, dan habitat satwa. Kekayaan genetik Indonesia pun berpotensi ikut musnah,” kata Rajiv kepada wartawan, Kamis (3/9).
Ia menjelaskan, ancaman terhadap satwa tidak berhenti setelah api berhasil dipadamkan. Satwa yang berhasil menyelamatkan diri tetap harus menghadapi hilangnya habitat dan sumber makanan, yang berpotensi memicu konflik dengan manusia karena satwa dapat masuk ke kawasan perkebunan, hutan sekunder, hingga permukiman warga untuk mencari makan.
Rajiv mendorong pemerintah mengubah pola penanganan karhutla dari sekadar respons saat kebakaran terjadi menjadi sistem pencegahan permanen berbasis risiko, yang dilakukan secara terpadu dengan melibatkan kementerian terkait, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, pemegang konsesi, masyarakat adat, serta masyarakat di sekitar kawasan hutan.
“Situasi ini harus dilihat sebagai krisis ekologis, bukan sekadar persoalan pemadaman api. Setiap titik panas harus segera diverifikasi, ditelusuri sumbernya, dan ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran besar,” ujarnya.
Selain pencegahan, Rajiv meminta Kementerian Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup menyiapkan protokol tanggap darurat khusus untuk satwa terdampak karhutla, mencakup pemetaan habitat dan koridor satwa, pembentukan tim penyelamatan dan layanan kesehatan satwa, penyediaan habitat sementara, serta pemantauan kondisi satwa pascakebakaran.
Ia menambahkan, perlindungan habitat satwa tidak boleh hanya berfokus pada kawasan konservasi, melainkan juga perlu memperkuat koridor ekologis dan areal preservasi serta membangun kerja sama dengan pemegang konsesi dan masyarakat.
“Perlindungan satwa harus menjadi bagian integral dari penanganan karhutla. Jangan sampai kita hanya menyelamatkan hutan dari api, tetapi kehilangan kekayaan hayati yang ada di dalamnya,” kata Rajiv.


