Jakarta โ Ekonom InFast Bestari, Gede Sandra, menilai mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi sinyal positif bagi perbaikan koordinasi antara otoritas moneter dan kebijakan fiskal Pemerintahan Prabowo Subianto. Ia berharap sosok yang akan menggantikan Perry lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, bukan semata menjaga inflasi.
“Diharapkan Gubernur BI mendatang adalah otoritas moneter yang lebih pro kepada growth, bukan sekedar menjaga inflasi namun mengorbankan pertumbuhan daya beli masyarakat,” ujar Gede dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.
Gede menyoroti masa jabatan Perry Warjiyo sepanjang 2018-2026 yang menurutnya berbarengan dengan periode menyusutnya kelas menengah di Indonesia. Ia menyebut proporsi kelas menengah pada 2018 masih berkisar 23 persen dari total populasi, namun kini tersisa sekitar 17 persen.
“Padahal kunci dari pertumbuhan ekonomi tinggi adalah kelas menengah yang gemuk,” katanya.
Ia membandingkan capaian tersebut dengan sejumlah negara lain, di mana proporsi kelas menengah Indonesia tergolong salah satu yang terkecil. Menurut Gede, Thailand memiliki kelas menengah sekitar 40 persen dari populasinya, Vietnam 30 persen, Brasil 28 persen, India 20 persen, dan Amerika Serikat 43 persen. Ia juga menyebut negara-negara Asia Timur dengan pertumbuhan ekonomi tinggi memiliki struktur kelas menengah yang jauh lebih besar, seperti China (50 persen), Jepang (55 persen), Korea Selatan (61 persen), dan Taiwan (31 persen).
Independensi BI Dinilai Masih Tinggi
Terkait kekhawatiran pasar atas independensi Bank Indonesia menyusul pergantian gubernur, Gede menyatakan hal itu tidak perlu dirisaukan secara berlebihan. Ia merujuk pada data Central Bank Independence and Effectiveness (CBIE) Index tahun 2023, yang mengukur tingkat independensi bank sentral di 155 negara dengan skala 0 hingga 1 โ semakin mendekati 1, semakin independen.
“Tingkat independensi Bank Indonesia pada tahun 2023 adalah sebesar 0,758,” kata Gede.
Angka tersebut, menurutnya, lebih tinggi dibandingkan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed (0,614), Thailand (0,435), Vietnam (0,301), India (0,595), China (0,659), Jepang (0,366), Korea Selatan (0,679), dan Taiwan (0,454).
Dengan posisi independensi yang relatif tinggi tersebut, Gede menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat pergantian kepemimpinan BI dapat diredam. “Masalah independensi bank sentral sepertinya tidak berbanding lurus dengan kemajuan ekonomi, besarnya kelas menengah suatu negara,” tuturnya.
Pernyataan ini disampaikan Gede Sandra menyusul mundurnya Perry Warjiyo dari kursi Gubernur BI, di tengah spekulasi publik mengenai arah kebijakan moneter Indonesia ke depan serta sosok yang akan ditunjuk sebagai penggantinya.


