Jakarta — Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai kenaikan harga BBM yang terjadi belakangan ini mencerminkan rendahnya kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam menjaga stabilitas harga energi domestik.
“Secara politis, kenaikan harga Pertamax dapat berpengaruh terhadap Prabowo. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi bila Bahlil bisa mendapatkan sumber BBM dari negara lain,” ujar Jamiluddin dikutip dari RMOL, Jumat (12/6/2026).
Ia juga mendorong Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi kinerja Bahlil, termasuk mempertimbangkan perombakan kabinet. “Seharusnya Prabowo mengevaluasi Bahlil untuk direshuffle. Sebab, Bahlil tak mampu menjaga stabilitas harga BBM, khususnya Pertamax,” katanya.
Harga BBM telah mengalami beberapa kali kenaikan sejak April 2026. Pada 18 April 2026, kenaikan pertama berlaku untuk Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Kenaikan lanjutan terjadi pada 4 Mei 2026, dengan Dexlite naik dari Rp23.600 menjadi Rp26.000 per liter dan Pertamina Dex dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per liter.
Kenaikan terbaru berlaku sejak 10 Juni 2026, menyasar Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.


