Jakarta – Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai prosesi adat yang dijalani Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Lampung mengandung pesan politik. Pernyataan itu disampaikan menanggapi ritual menginjak kepala kerbau yang dilakukan Jokowi saat menerima gelar adat “Baginda Pemuka Bangsa” di provinsi tersebut.
“Tidak perlu dipikirkan terlalu jauh. Singkat saja bahwa kita membaca masih ada ambisi yang sangat besar bagi seorang Jokowi di perpolitikan Indonesia,” kata Hendri yang akrab disapa Hensa, Senin, 29 Juni 2026.
Prosesi adat tersebut berlangsung di tengah safari politik Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Sejumlah pihak mengaitkan momen itu dengan beberapa simbol, antara lain lokasi Lampung yang dikenal sebagai basis elektoral Partai Gerindra, serta kepala kerbau yang identik dengan logo Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Hendri mengatakan berbagai simbol dalam safari politik Jokowi akan terus memunculkan spekulasi di ruang publik. Namun menurutnya, pesan yang paling mudah ditangkap adalah keinginan Jokowi untuk tetap memiliki peran dan pengaruh dalam dinamika politik nasional.
Founder Lembaga Survei Kedai Kopi itu menambahkan, rangkaian aktivitas politik Jokowi belakangan ini menguatkan anggapan publik bahwa ayah dari Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep tersebut belum benar-benar meninggalkan panggung politik nasional.
“Sehingga hanya membenarkan prediksi orang bahwa Jokowi tidak benar-benar pulang kampung,” kata Hendri.
Sebelumnya diberitakan, Jokowi menjalani prosesi adat saat menerima gelar “Baginda Pemuka Bangsa” di Lampung dengan menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah. Momen tersebut memicu berbagai tafsir politik karena berlangsung di tengah safari politiknya bersama PSI.


