Jombang – Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintahannya tidak ingin terlalu banyak mengandalkan utang untuk membiayai pembangunan dan lebih memilih mengoptimalkan efisiensi anggaran. Hal itu disampaikan Prabowo saat menghadiri penutupan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026).
Prabowo mengatakan dana hasil efisiensi anggaran dialihkan langsung untuk kepentingan rakyat. “Inilah yang kita alihkan, yang kita gelontorkan sebesar-besarnya langsung ke rakyat,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah saat ini berupaya mengurangi ketergantungan pada pinjaman dari berbagai pihak, meski tetap membuka ruang bagi investasi untuk mendukung pembangunan. “Kita sekarang berusaha tidak mau terlalu banyak pinjam-pinjam uang dari mana-mana. Ajak investasi boleh,” ujarnya.
Prabowo menambahkan, jika pemerintah harus mengambil pinjaman, utang tersebut harus diperoleh dengan bunga serendah mungkin. “Kalau kita pinjam uang, kita mau pinjam uang yang bunganya sekecil mungkin,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan pemerintah sempat mendapat tawaran pinjaman beberapa bulan lalu, namun menolaknya karena menilai Indonesia masih mampu menjalankan program tanpa tambahan pinjaman. “Saya kira kemarin berapa bulan yang lalu, kaget Menteri Keuangan kita ditawarin, ditawarin. Kita tolak. Terima kasih, Indonesia masih bisa tanpa pinjaman,” ungkapnya.
Prabowo menyebut kebijakan tersebut sejalan dengan strategi transformasi bangsa yang tengah dijalankan pemerintah, dengan fokus utama meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi angka kemiskinan. Ia optimistis jutaan rakyat Indonesia dapat keluar dari kemiskinan melalui berbagai kebijakan yang telah dijalankan pemerintah.
“Kita akan mengangkat jutaan rakyat kita keluar dari kemiskinan dan kita sudah buktikan dalam dua tahun pertama kita,” pungkas Prabowo.


