Jakarta – Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.812 per dolar AS pada perdagangan Rabu (27/5/2026), turun 17 poin atau 0,10 persen dibanding perdagangan sebelumnya berdasarkan data Bloomberg.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan tersebut tidak sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kuat. “Kan fundamentalnya bagus, sebetulnya nggak masuk akal. Rupiah melemah itu kalau ada gangguan,” kata Purbaya saat ditemui di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta.
Purbaya memastikan pelemahan rupiah tidak memaksa pemerintah menghitung ulang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, berbagai skenario termasuk asumsi harga minyak dan nilai tukar telah diperhitungkan sebelumnya. “Pada waktu simulasi minyak 100 dolar AS per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kita perhitungkan. Jadi nggak ada masalah,” ujarnya.
Di sisi lain, Purbaya menyebut pasar obligasi pemerintah masih relatif terkendali. Yield obligasi dilaporkan turun berkat intervensi pemerintah dan aksi pembelian oleh Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). “Walaupun rupiah melemah, bond yield-nya turun karena aksi dari pemerintah dan teman-teman kita di Himbara untuk sedikit membeli supaya yield-nya agak terkendali,” tuturnya.
Purbaya menegaskan stabilitas pasar obligasi menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan investor asing. Ia juga mengungkapkan pemerintah mulai melihat arus modal asing kembali masuk ke pasar obligasi domestik. “Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu kita,” pungkasnya.


