Batam — Akademisi sekaligus pengamat kebijakan publik Rikson Pandapotan Tampubolon menilai munculnya kembali aksi-aksi mahasiswa di Batam dalam beberapa hari terakhir merupakan tanda hidupnya kembali fungsi kontrol sosial masyarakat terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan di daerah.
“Mahasiswa memiliki fungsi sebagai social control dan agent of change. Kehadiran mereka menjadi pengingat agar pemerintah tetap fokus menyelesaikan persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Rikson, Sabtu (20/6/2026).
Penilaian itu disampaikan menyusul sejumlah aksi demonstrasi mahasiswa yang mewarnai Kota Batam pada Kamis (18/6/2026). Dalam aksi-aksi tersebut, mahasiswa tidak hanya mengkritik kebijakan nasional, tetapi juga mengangkat persoalan lokal yang selama ini menjadi keluhan masyarakat, mulai dari krisis air bersih, persoalan sampah, banjir, hingga pembangunan yang dinilai mengabaikan daya dukung lingkungan.
Menurut Rikson, fokus pada persoalan tersebut menunjukkan adanya perubahan orientasi gerakan mahasiswa, dari yang sebelumnya didominasi isu politik nasional menjadi lebih banyak menyoroti persoalan sehari-hari yang langsung dirasakan masyarakat.
“Yang penting bukan berapa kelompok yang turun ke jalan, tetapi isu yang diperjuangkan. Mahasiswa sedang menjalankan fungsi kritisnya untuk memastikan pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Mantan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) itu juga menilai munculnya beberapa kelompok mahasiswa yang bergerak dalam momentum berbeda tidak perlu dipandang sebagai bentuk perpecahan gerakan, karena keberagaman organisasi dan saluran aspirasi merupakan hal yang wajar dalam sistem demokrasi.
Selain isu lingkungan dan pelayanan publik, Rikson menyoroti perhatian mahasiswa terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Ia menilai kedua program tersebut dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat, namun tetap membutuhkan pengawasan agar pelaksanaannya berjalan sesuai tujuan.
“Kita harus memastikan program-program itu tidak berhenti sebagai proyek administratif semata, tetapi benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat,” katanya.
Rikson menilai tantangan terbesar yang dihadapi Batam saat ini tetap berada pada tata kelola pembangunan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, masuknya investasi, serta ekspansi kawasan industri harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas lingkungan hidup, pelayanan publik, dan pemerataan kesejahteraan masyarakat, dan keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari besarnya nilai investasi atau banyaknya proyek yang dibangun.
Ia berharap gerakan mahasiswa tidak berhenti pada aksi demonstrasi di jalanan, dan mendorong kolaborasi dengan akademisi, organisasi masyarakat sipil, komunitas lingkungan, hingga kelompok pekerja untuk memperkuat fungsi pengawasan publik terhadap kebijakan pemerintah.
“Mahasiswa harus terus hadir sebagai pengingat bahwa tujuan akhir pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.


