Jakarta – Pesantren Luhur Ciganjur menggelar Halaqoh Pra-Muktamar NU bertajuk “Quo Vadis NU: Apakah NU Masih Milik Ummat?” pada Sabtu malam, 4 Juli 2026, di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Acara ini menghasilkan lima butir seruan moral menjelang Muktamar NU.
Kegiatan tersebut dihadiri kader muda NU sebagai panelis serta ratusan tamu undangan dari berbagai organisasi keagamaan, pelajar, dan mahasiswa.
Pengasuh Pesantren Luhur Ciganjur, KH. Arief Rachman Hamid Baidlowi, mengatakan NU mampu bertahan lebih dari 100 tahun karena bersandar pada kebijaksanaan dan barokah ulama pendiri NU.
Ketua Alumni Pesantren Luhur Ciganjur, KH. Syaifullah Amin, menyatakan halaqoh ini digelar sebagai bentuk keprihatinan generasi muda Nahdliyin atas kondisi kepemimpinan NU saat ini. Ia menegaskan pimpinan NU seharusnya hanya setia kepada warga Nahdliyin, bukan sibuk dengan perebutan jabatan.
Lurah Pesantren Luhur Ciganjur, Muhammad Fadhil Bilad, menyampaikan bahwa halaqoh tersebut murni inisiatif santri dan alumni pesantren. Ia berharap kegiatan ini menghasilkan aspirasi yang membangun bagi NU, mengingat AD/ART NU Bab IV Pasal 9 poin b, c, dan d mengamanatkan peningkatan kualitas pendidikan, pemberdayaan kesehatan, advokasi masyarakat terpinggirkan, hingga pemerataan pendapatan.
Halaqoh tersebut menghasilkan lima butir seruan moral:
- NU tidak boleh terkooptasi oleh pemerintah.
- NU harus berpegang teguh pada AD/ART dalam menjalankan fungsinya.
- NU harus mengedepankan fungsi kontribusi kepada warga Nahdliyin.
- Keberpihakan pada warga Nahdliyin harus diwujudkan melalui advokasi, peningkatan ekonomi, dan pemerataan kemakmuran.
- Pimpinan NU diminta bertindak bijak dan menghindari konflik demi menjaga keharmonisan warga Nahdliyin.


