Jakarta — Kepemilikan saham Indonesia di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang sebelumnya berada dalam konsorsium badan usaha milik negara (BUMN) akan dialihkan kepada pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menilai pengalihan tersebut menunjukkan besarnya risiko finansial proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh yang selama ini melekat pada BUMN, terutama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
“Menurut saya, Danantara sudah menyerah. Risikonya terlalu besar bagi BUMN, terutama KAI yang menjadi pemegang saham terbesar,” ujar Herry dilansir dari Kontan.co.id, Minggu (9/8).
Menurut Herry, keberadaan saham KCIC di dalam konsorsium BUMN berpotensi meningkatkan tekanan terhadap perusahaan negara apabila kewajiban pembiayaan proyek terus membesar.
Ia menilai persoalan Whoosh tidak hanya berkaitan dengan jumlah penumpang dan pendapatan operasional. Proyek tersebut juga memiliki struktur pembiayaan dan kewajiban jangka panjang yang harus diperhitungkan dalam pengelolaannya.
Karena itu, pengalihan saham dari Danantara kepada Kemenkeu dinilai dapat menjadi langkah pemerintah untuk mengurangi eksposur risiko proyek Whoosh terhadap neraca BUMN.
Namun, Herry mempertanyakan apakah pengalihan tersebut benar-benar menghilangkan risiko atau hanya memindahkannya dari BUMN ke pemerintah.
Saham Akan Ditempatkan pada SMV
Wakil Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah bersama Danantara telah menyepakati pengalihan kepemilikan saham konsorsium BUMN di KCIC kepada pemerintah.
Menurut Purbaya, saham tersebut nantinya akan ditempatkan pada salah satu special mission vehicle (SMV) di bawah Kemenkeu.
“Dialihkan ke Kementerian Keuangan, tetapi nanti kami gunakan salah satu SMV, tidak untuk langsung menjadi tanggungan APBN,” kata Purbaya.
Dengan skema tersebut, pengalihan saham tidak secara otomatis menjadikan kewajiban pembiayaan proyek Whoosh sebagai belanja langsung dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Meski demikian, pengalihan kepemilikan tetap menimbulkan implikasi terhadap pengelolaan risiko proyek. Jika entitas yang menjadi pemegang saham KCIC membutuhkan dukungan pemerintah untuk memenuhi kewajiban proyek, tekanan terhadap keuangan negara masih dapat muncul melalui mekanisme lain.
Dengan demikian, pengalihan saham dari Danantara ke Kemenkeu mengubah posisi pengelolaan aset dan risiko proyek Whoosh, tetapi belum serta-merta menghapus kewajiban finansial yang melekat pada proyek tersebut.


