Batam – Pemerintah Kota Batam meluncurkan Tim Cakalang untuk mempercepat pengurusan dokumen resmi kapal nelayan yang selama ini masih rendah. Kepala Dinas Perikanan Kota Batam Yudi Admajianto mengatakan dari total 7.224 kapal nelayan berkapasitas 0–5 Gross Ton (GT), baru sekitar 898 kapal yang memiliki dokumen rekomendasi pembelian BBM resmi dari BPH Migas.
Yudi menjelaskan selama ini nelayan harus melalui sejumlah tahapan administrasi yang melibatkan berbagai instansi, mulai dari pengurusan surat tukang di kelurahan atau kecamatan, E-Pas Kecil di KSOP, Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui PTSP, E-BKP di Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau, hingga surat rekomendasi dari Dinas Perikanan.
“Tim Cakalang menggabungkan seluruh unsur terkait untuk turun langsung ke pulau-pulau. Nelayan tidak perlu lagi jauh-jauh mengurus dokumen ke kota,” kata Yudi.
Sepanjang 2026, Tim Cakalang dijadwalkan turun enam kali ke wilayah hinterland seperti Pulau Kasu, Pulau Terong, Bulang, dan Galang, dengan target penerbitan hingga 1.500 surat rekomendasi pada Desember 2026.
Selain layanan dokumen, pemerintah juga menyalurkan 100 unit mesin ketinting senilai sekitar Rp500 juta kepada nelayan di Kecamatan Belakang Padang melalui pokok pikiran Wakil Ketua I DPRD Kota Batam Aweng Kurniawan. Di Pulau Kasu, 50 nelayan penerima bantuan langsung difasilitasi penerbitan dokumen kapal pada hari yang sama.
Peluncuran Tim Cakalang ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan Wali Kota Batam Nomor 387 Tahun 2026 tentang pembentukan tim lintas instansi tersebut, disertai peninjauan pelayanan administrasi kapal dan penyerahan bantuan simbolis kepada perwakilan nelayan Kampung Nelayan Merah Putih.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengapresiasi sinergi Pemko Batam, DPRD, dan instansi vertikal dalam menghadirkan layanan bagi masyarakat pesisir. “Melalui Tim Cakalang, kita hadir memotong rantai birokrasi yang rumit agar nelayan mudah mendapatkan BBM bersubsidi,” ujarnya.
Amsakar menegaskan Tim Cakalang harus memastikan pelayanan administrasi kapal berjalan berkelanjutan, cepat, dan gratis. Ia juga meminta bantuan mesin ketinting dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan nelayan.


