Batam – Jumlah pasien infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di puskesmas Kota Batam turun dari 517 kasus pada 16 September 2026 menjadi 273 kasus pada 22 September. Penurunan itu hampir separuh dalam enam hari.
Data tersebut bersumber dari laporan harian puskesmas kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam untuk periode 16–22 September 2026. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Batam Melda Sari mengatakan tren kasus secara umum menurun.
“Kasus ISPA dari tanggal 16–22 September berdasarkan laporan harian dari puskesmas cenderung mengalami penurunan,” kata Melda, Rabu (23/9/2026).
Angka harian sempat berfluktuasi. Kasus tercatat 358 pada 17 September, turun menjadi 258 pada 18 September, lalu naik tipis menjadi 267 pada 19 September. Kasus kembali naik menjadi 390 pada 21 September sebelum turun ke 273 pada 22 September.
Dari 273 kasus pada 22 September, kelompok usia 19–59 tahun paling banyak, yakni 117 pasien. Disusul usia 10–18 tahun (55 kasus), balita (43 kasus), usia 5–9 tahun (39 kasus), dan usia di atas 60 tahun (19 kasus).
Menurut wilayah, kasus terbanyak tercatat di Puskesmas Mentarau (34 kasus), diikuti Puskesmas Sei Panas (23 kasus), Puskesmas Batu Aji dan Botania masing-masing 21 kasus, serta Puskesmas Tanjung Uncang (20 kasus).
Melda mengatakan setiap pasien ditangani sesuai gejala dan keluhan, serta diberi edukasi kesehatan. Dinkes memantau kasus setiap hari melalui sistem pelaporan cepat SIKAT ISPA Batam (Situasi Kasus, Analisis dan Tindak Lanjut ISPA), yang juga menjadi dasar penentuan tindak lanjut jika kondisi di lapangan berubah. Pemantauan dilakukan bersamaan dengan pemantauan kualitas udara melalui Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) bersama dinas terkait.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Batam telah meningkatkan kewaspadaan terhadap kabut asap dan mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, serta memakai masker jika harus keluar rumah.


