Oleh: Pangeran Jerico Phillip Simanullang, Mahasiswa Universitas Diponegoro
Bayangkan Anda sebagai mahasiswa baru yang baru saja meninggalkan zona nyaman SMA, tiba-tiba terjun ke dunia kampus yang penuh tekanan akademik, tugas menumpuk, dan rasa kesepian yang membuat anda “homesick” selama 1 semester. Di Indonesia, ribuan mahasiswa baru seperti Anda menghadapi perubahan ini setiap tahun, di mana tingkat dropout mencapai 10-15% pada tahun pertama, menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2022.
Mengapa hal ini banyak terjadi pada mahasiswa baru? Karena kurangnya adaptasi sosial dengan lingkungan pertemanan di kampus maupun lingkungan sekitarnya (terutama perantau) dan keterampilan praktis yang membuat kuliah terasa seperti perjuangan sendirian.
Memang, di dunia kampus spesifiknya hal akademis kita harus melakukan semuanya dengan sendirian tetapi, saya yakin, solusi sederhana tetapi ampuh ada di depan mata: bergabung dengan organisasi internal (seperti BEM, Senat Mahasiswa atau Himpunan Jurusan di kampus) dan eksternal (seperti komunitas volunteer, klub profesi luar kampus atau Gerakan mahasiswa seperti HMI, GMNI, GMKI, PMII dll). Bukan sekadar hobi, ini adalah investasi krusial untuk masa depan.
Opini saya, mahasiswabaru yang mengabaikan peluang ini akan kehilangan kesempatan emas untuk berkembang sesuaidengan 5 peran mahasiswa (agent of changes, iron stock, guardian of value, moralforce, social control). Selain itu, mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi justru menuai manfaat tak ternilai seperti leadership, networking, dan pengalamannyata.
Mari kita bedah mengapa ini bukan pilihan, tapi keharusan. Pertama, organisasi internal kampus seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Senat Mahasiswa (SM) atau Himpunan Mahasiswa (HIMA) menawarkan berbagai cara efektif untuk beradaptasi dengan cepat. Bayangkan, sebagai mahasiswa baru, Anda sering tidak terlihat dan stuck di situ situ saja. Bergabung di organisasi internal kampus membangun rasa harmonisasi dan skill leadership sejak dini. Secara kritis, ini bukan sekadar “ikut-ikutan”atau “fomo”. Berdasarkan survey dari Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) tahun 2023 menunjukkan bahwa 70% mahasiswa aktif di organisasi internal mengalami peningkatan rasa percaya diri dan kemampuan manajemen waktu (time management), yang langsung berdampak pada peningkatan IPK dengan rata-rata 0,5 poin. Menurut pandangan saya sendiri, ini bukti nyata: tanpa organisasi, kuliah jadi rutinita smonoton yang membosankan, tapi dengan organisasi internal, Anda belajar bernegosiasi, mengorganisir acara, dan bahkan memengaruhi kebijakan kampus – skill yang sangat berpengaruh dan bekal kita ketika memasuki dunia pekerjaan.
Lebih explore dari organisasi internal kampus, organisasi eksternal seperti program volunteer di LSM lingkungan (misalnya, WWF Indonesia) atau komunitas startup seperti Indonesia Youth Alliance membuka pintu perspektif luas di luar lingkungan kampus. Kritisnya, mahasiswa baru sering terjebak dalam ruang akademik, di mana pengetahuan terbatas dan bergantung pada buku teks. Tapi, bergabung dalam organisasi eksternal memberikan pengalaman nyata yang memperbagus CV.
Data dari LinkedIn Global Talent Trends 2023 mengungkap bahwa 85% perekrut di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memprioritaskankan didat dengan pengalaman eksternal karena menunjukkan inisiatif dan adaptabilitas. Tentu, ada tantangan seperti konflik jadwal atau kelelahan – saya akui, ini bisa melelahkan bagi pemula. Namun, secara persuasif, manfaat jangka panjang seperti jaringan profesional dan ketahanan mental yang kuat. Di era kompetitif ini, di mana lulusan sarjana Indonesia masihk esulitan employability (hanya 60% orang yang mendapat pekerjaan dalam 6 bulan pasca-lulus, per BPS 2022), mengabaikan organisasi berarti menyerah pada kemampuan diri yang stuck (mediokritas). Ini bukan opini subjektif; fakta menunjukkan berpartisipasi di organisasi meningkatkan peluang karir hingga 40%, menurut studi Harvard Business Review.
Singkatnya, organisasi internal dan eksternal bukan tambahan, tapi pondasi yang sangat penting bagi mahasiswa baru untukmengubah tantangan transisi menjadi peluang yang tumbuh. Dari leadership di kampus hingga networking global, manfaat ini membekali kita dengan skill yang tak diajarkan di bangku perkuliahan, membuktikan opini saya bahwa partisipasi aktif adalah kunci sukses holistik. Jangan biarkan rasa takut atau kesibukan menghalangi; sebaliknya, mulai kecil: ikuti open recruitment HIMA,/SENAT/BEM minggu ini atau daftar volunteer online. Kampus dan komunitas luar siap menyambut – tugas kita sebagai mahasiswa baru adalah mengambil langkahpertama. Dengan begitu, bukanhanya lulus dengan gelar saja karena “ijazah hanya tanda bahwa seseorang pernah sekolah, bukan tanda seseorang pernah berfikir”, tapi unggul di dunia nyata. Sebagai mahasiswa baru, jadilah bagian dari perubahan ini sekarang juga!


