Kesatuan Pelajar, Pemuda, dan Mahasiswa Pesisir Indonesia (KPPMPI) mendorong pemerintah untuk serius mewujudkan swasembada garam nasional, tapi dengan catatan: jangan lupakan petambak rakyat.
Ketua Bidang Kajian Garam DPP KPPMPI, Fawaz Muhammad Sidiqi, bilang kemandirian garam bukan cuma soal produksi besar-besaran, tapi juga perlindungan bagi petambak lokal dan pelibatan pemuda pesisir sebagai penggerak industri garam yang modern dan berkelanjutan.
“Produksi garam kita masih naik-turun, sementara impor malah tinggi banget. Padahal potensi lokal besar. Kalau ini dibiarkan, kedaulatan garam kita bisa terancam,” ujar Fawaz dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (1/11/2025).
Berdasarkan data, produksi garam nasional sempat tembus 2,9 juta ton pada 2019, tapi turun di 2020–2022, lalu naik lagi jadi 2,55 juta ton di 2023 dan 2,04 juta ton di 2024. Di sisi lain, impor garam industri masih tinggi banget—mencapai 2,75 juta ton di 2024, mayoritas dari Australia dan India.
Pemerintah sendiri sudah ngeluarin Perpres No. 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pergaraman Nasional, dengan target swasembada di 2027. Salah satu programnya adalah bikin Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) biar pengelolaan dari hulu ke hilir lebih efisien.
Tapi KPPMPI ngasih catatan penting: jangan cuma fokus ke industri besar. “Petambak rakyat harus tetap jadi prioritas. Harus ada jaminan harga, akses pembiayaan, dan pendampingan biar petambak kecil bisa bertahan dan berkembang,” tegas Fawaz.
Menurutnya, kunci swasembada ada di regulasi yang berpihak ke petambak kecil. Koperasi tambak harus diperkuat, dan program K-SIGN wajib disinergikan dengan produsen lokal biar mereka nggak kalah saing.
Hal senada disampaikan Mohammad Aufa Marom, Ketua Paguyuban Pelopor Petambak dan Pedagang Garam Madura. Ia bilang regenerasi petambak muda jadi kunci agar sektor ini nggak mati.
“Petambak garam bukan profesi kuno, tapi keren! Di sini ada sains, seni, dan semangat wirausaha. Kami mau buktiin tambak bisa jadi pusat ekonomi yang menjanjikan,” kata Aufa.
Dia juga berharap pemerintah lebih tegas melindungi petambak dari permainan harga dan impor murah.
“Ini sumpah pemuda masa kini: laut kita, garam kita, kedaulatan kita,” tutupnya.


