Jakarta – Anggota Komisi III DPR RI Rudianto Lallo mengapresiasi keberhasilan Kejaksaan Agung mengembalikan kerugian negara senilai Rp6,62 triliun.
Dana tersebut merupakan hasil penagihan denda administratif kehutanan dan penyelamatan keuangan negara dari tindak pidana korupsi.
Rudianto mendukung penuh jika dana tersebut dimanfaatkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto untuk kepentingan masyarakat, termasuk membiayai pembangunan sedikitnya 100 ribu hunian tetap bagi pengungsi bencana banjir Sumatra.
“Wujudnya harus untuk kesejahteraan masyarakat. Apakah itu dimanfaatkan untuk membantu korban bencana atau pembangunan hunian, saya kira itu tidak masalah asal ujungnya untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Rudianto, Minggu (28/12/2025).
Legislator Fraksi Partai NasDem itu mengkritik pola penanganan korupsi yang selama ini hanya mengedepankan hukuman badan dan mempermalukan tersangka di depan publik.
“Saya secara pribadi lebih apresiasi uang yang dipamerkan ketimbang orang yang dipamerkan. Selama ini orang dipamerkan pakai baju atau rompi tahanan, tapi ternyata tidak ada efek jera, korupsi tidak selesai-selesai,” tegasnya.
Rudianto memandang memamerkan hasil pemulihan aset sebagai cara baru yang lebih elegan dan bermakna dalam penegakan hukum. Hal ini menunjukkan fokus utama pemberantasan korupsi telah bergeser ke arah penyelamatan keuangan negara.
“Kasus korupsi tidak serta merta soal penghukuman badan, tapi yang utama adalah pengembalian uang negara. Saya berpikir positif, ini cara baru yang ditampilkan dalam pemulihan kerugian negara, ini jauh lebih bermakna,” jelasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo memberikan ilustrasi konkret pemanfaatan dana Rp6,62 triliun tersebut. Selain pembangunan hunian tetap, dana tersebut diklaim cukup untuk merenovasi sekitar 6.000 gedung sekolah di seluruh Indonesia.
Berdasarkan laporan menteri terkait, kebutuhan hunian tetap untuk korban bencana banjir dan longsor di Indonesia mencapai hampir 200 ribu unit.
Prabowo menyayangkan sikap korporasi yang mengabaikan kewajiban administratifnya.
“Dengan ini saja, 100.000 (rumah) sudah terbayar. Bayangkan berapa korporasi? 20 perusahaan ini ingkar tidak mau memenuhi kewajiban mereka yang bisa menyelamatkan hidupnya 100.000 saudara-saudara kita,” kata Prabowo.


