Jakarta – Harga batu bara global mengalami pelemahan pada pekan pertama Januari 2026 akibat tekanan permintaan dari Asia dan tingginya ketersediaan stok di pasar internasional.
Pada Senin (5/1/2026), harga di dua pasar acuan utama mengalami penurunan. Di Newcastle, kontrak Januari 2026 turun 0,35 persen menjadi 106,2 dolar AS per ton. Kontrak Februari turun 0,65 dolar AS menjadi 104,85 dolar AS, dan Maret turun 0,2 dolar AS menjadi 104,8 dolar AS.
Di Rotterdam, harga Januari 2026 melemah 0,15 dolar AS menjadi 97,85 dolar AS. Kontrak Februari dan Maret juga turun masing-masing 0,75 dolar AS dan 1,4 dolar AS.
Data BigMint menunjukkan total ekspor batu bara non-kokas Indonesia sepanjang 2025 mencapai 364,6 juta ton, turun 7,8 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 395,5 juta ton.
Penurunan ekspor dipicu oleh sikap hati-hati negara importir Asia yang mengurangi pembelian akibat melambatnya aktivitas industri dan melimpahnya stok domestik. China, importir terbesar, memangkas impor 21 persen menjadi 83,1 juta ton karena kuatnya produksi domestik. India mengurangi impor 7 persen menjadi 95,4 juta ton seiring meningkatnya pasokan internal dan optimalisasi energi terbarukan.
Jepang dan Filipina juga mencatat penurunan impor. Sebaliknya, Malaysia dan Korea Selatan mengalami kenaikan tipis masing-masing 1,7 persen dan 0,8 persen.
Kementerian ESDM merevisi naik Harga Acuan Batu Bara (HBA) untuk paruh pertama Januari 2026. Batu bara kalori tinggi (6.322 kcal/kg GAR) naik 2,5 persen menjadi 103,3 dolar AS per ton. Kalori rendah (4.100 kcal/kg GAR) mencapai 47,05 dolar AS per ton, level tertinggi dalam enam bulan.
Industri tambang masih menghadapi ketidakpastian terkait kebijakan bea keluar ekspor 2026. Rencana penerapan tarif 1-5 persen mengalami penundaan menyusul keberatan pelaku usaha. Pemerintah saat ini mengkaji opsi tarif bertingkat 5-11 persen yang dikaitkan dengan fluktuasi harga global.
Ekspor batu bara Indonesia diprediksi stabil dalam jangka pendek berkat dukungan harga acuan yang kuat. Namun, pemulihan signifikan diperkirakan terhambat oleh lemahnya permintaan dari China dan belum tuntasnya regulasi bea keluar.


