Jakarta – Pengamat politik dan militer dari Universitas Nasional (Unas), Selamat Ginting, menilai serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke wilayah Iran bertujuan melumpuhkan sistem rudal balistik, jaringan komando dan kontrol, serta infrastruktur militer yang dianggap mengancam Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk.
“Target yang lebih sensitif adalah program nuklir Iran, isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama,” ujar Ginting dalam keterangannya, Minggu, 1 Maret 2026.
Secara geopolitik, Ginting menilai serangan tersebut bukan sekadar tindakan pencegahan, melainkan bentuk pemaksaan strategis. “Ini adalah bentuk strategic coercion, memaksa Iran menerima batasan yang sebelumnya gagal dicapai lewat diplomasi,” katanya.
Namun, Ginting mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan tekanan militer eksternal kerap memperkuat konsolidasi internal rezim, bukan melemahkannya. Serangan terhadap wilayah metropolitan seperti Teheran dinilai berisiko membangkitkan nasionalisme defensif di dalam negeri Iran.
Menurut Ginting, risiko terbesar bukan terletak pada serangan pertama, melainkan pada respons balasan Iran. Iran dinilai memiliki spektrum balasan yang luas, mulai dari rudal balistik, drone jarak jauh, serangan siber, hingga aktivasi jaringan proksi di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman.
Jika kelompok seperti Hezbollah turut terlibat, Israel berpotensi menghadapi perang dua front. Sementara jika pangkalan AS di Teluk diserang, Washington diprediksi akan memperluas operasi militernya.
“Konflik dapat berubah dari operasi terbatas menjadi perang regional yang melibatkan Levant dan Teluk Persia secara simultan,” kata Ginting.
Ginting menambahkan, meski serangan cepat mungkin berhasil secara taktis, tanpa strategi keluar yang jelas, operasi militer tersebut berisiko berubah menjadi konflik berkepanjangan.


