Jakarta — Perusahaan energi asal China, China Energy Engineering Corporation (CEEC), menjajaki peluang investasi di kawasan transmigrasi Indonesia, termasuk Kawasan Transmigrasi Batam Rempang Galang (Barelang). Investasi itu berpotensi menyerap hingga 5.000 tenaga kerja per proyek dengan rasio satu tenaga kerja China berbanding sepuluh pekerja lokal Indonesia.
Hal itu mengemuka dalam audiensi antara Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dan Vice President CEEC Southeast Asia Regional Headquarters Jin Bin di Jakarta, Minggu, 8 Maret 2026.
Jin Bin menyatakan Indonesia merupakan salah satu tujuan investasi strategis bagi perusahaan yang telah beroperasi di lebih dari 147 negara tersebut. CEEC telah hadir di Indonesia sejak 1994 dan menyelesaikan lebih dari 100 proyek dengan total nilai kontrak sekitar 7 miliar dolar AS, terutama di sektor pembangkit listrik dan infrastruktur energi.
“Kami telah mengunjungi Pulau Rempang dan sedang mempelajari peluang investasi di kawasan tersebut,” ujar Jin Bin.
Kawasan Rempang sendiri direncanakan dikembangkan menjadi kota industri modern seluas sekitar 8.000 hektare. Pemerintah tengah membangun infrastruktur pendukung di kawasan itu, termasuk dermaga nelayan, fasilitas cold storage, dan Kampus Patriot sebagai pusat pendidikan dan pelatihan tenaga kerja.
Menteri Iftitah menegaskan setiap investasi yang masuk ke kawasan transmigrasi harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal. Pemerintah juga berkoordinasi dengan BP Batam untuk memastikan proses investasi berjalan kondusif, mengingat kawasan Rempang pernah dilanda konflik sosial beberapa tahun lalu.
“Jika investasi mampu menjadi solusi bagi masyarakat melalui lapangan kerja, maka dukungan masyarakat juga akan semakin kuat,” kata Iftitah.


