Jakarta – Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) sekaligus mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, meminta Presiden Prabowo Subianto mengurangi frekuensi kunjungan ke luar negeri yang dinilai terlalu tinggi dan membutuhkan biaya besar.
Pernyataan itu disampaikan Dino melalui Instagram pada Sabtu (30/5/2026), setelah menerima penghargaan Bintang Mahaputera dari Presiden Prabowo.
“Saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia menghimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini,” ujar Dino.
Dino, yang juga mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, menyebut Prabowo termasuk kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan luar negeri dibanding pemimpin dunia lainnya sejak menjabat. Ia memperkirakan sekitar satu dari enam hari masa kepresidenan Prabowo dihabiskan di luar negeri.
Menurut Dino, setiap kunjungan kenegaraan ke luar negeri memerlukan biaya besar yang mencakup tim pendahulu, transportasi udara, akomodasi, logistik, protokoler, pengamanan, hingga uang harian seluruh delegasi.
“Satu perjalanan ke luar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar,” tegasnya.
Dino menilai intensitas kunjungan tersebut perlu dievaluasi, mengingat kondisi ekonomi yang membuat masyarakat tidak lagi memandang kemewahan protokoler diplomatik sebagai hal yang membanggakan.
“Rakyat mengharapkan pemimpin mereka bisa menunjukkan kepekaan dan kepatutan dalam melakukan perjalanan ke luar negeri,” tandasnya.


