Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Juni 2026 meningkat dan mendekati batas atas sasaran inflasi pemerintah, dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi menjadi salah satu faktor utama pendorongnya.
BPS mencatat inflasi Juni 2026 secara bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,04 persen, inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 3,34 persen, dan inflasi tahun kalender (year to date/ytd) sebesar 1,79 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan terdapat sejumlah peristiwa yang memengaruhi pergerakan harga sepanjang Juni 2026, terutama penyesuaian harga BBM non-subsidi.
“Ada beberapa catatan peristiwa penting yang dapat berpengaruh terhadap indikator harga, khususnya sepanjang Juni 2026,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Ateng menjelaskan, penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan dalam dua tahap sepanjang Juni. Pada 1 Juni 2026, harga Pertamax Turbo (RON 98) naik dari Rp19.900 per liter menjadi Rp20.750 per liter. Selanjutnya, mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.
Kenaikan harga BBM tersebut turut mendorong kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Juni 2026, dengan inflasi sebesar 2,29 persen dan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,28 persen.
Menurut Ateng, bensin menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi kelompok transportasi.
“Tiga komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok transportasi, yaitu pertama, bensin dengan andil inflasi 0,21 persen, kedua, tarif angkutan udara dengan andil inflasi sebesar 0,05 persen, ketiga, pelumas atau oli mesin dengan andil inflasi sebesar 0,01 persen,” ujarnya.
Data BPS tersebut menunjukkan penyesuaian harga BBM non-subsidi menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi Juni 2026 hingga mencapai 3,34 persen secara tahunan.


