Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan akan segera menetapkan tersangka dalam kasus dugaan korupsi penentuan kuota dan penyelenggaraan ibadah haji di Kementerian Agama (Kemenag) periode 2023–2024.
Jurubicara KPK Budi Prasetyo mengatakan penetapan tersangka menunggu selesainya penghitungan kerugian keuangan negara oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Secepatnya setelah penghitungan kerugian negaranya selesai. Mohon bersabar, kawan-kawan BPK masih menyelesaikan,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (4/1/2026).
Budi menjelaskan seluruh pihak terkait perkara telah dimintai keterangan oleh auditor BPK. Pemeriksaan dilakukan untuk mengalkulasi kerugian negara yang diduga timbul akibat kebijakan pembagian kuota haji tambahan.
“Sebelumnya pihak-pihak dari Kemenag, asosiasi, hingga travel haji sudah diperiksa auditor untuk mengkalkulasi kerugian negara akibat diskresi pembagian kuota haji tambahan yang bertentangan dengan aturan,” katanya.
KPK telah mencegah tiga orang bepergian ke luar negeri hingga Februari 2026, yaitu mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, pemilik Maktour Travel Fuad Hasan Masyhur yang juga mertua mantan Menpora Dito Ariotedjo, serta Ishfah Abidal Aziz alias Gus Alex, mantan staf khusus Yaqut yang juga menjabat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Tim penyidik KPK telah memeriksa Yaqut sebagai saksi pada 16 Desember 2025. Ia juga tercatat sudah diperiksa pada 1 September 2024 dan 7 Agustus 2025.
KPK mulai menyidik perkara ini sejak 8 Agustus 2025 dengan menggunakan Sprindik Umum. Kasus tersebut disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat 1 dan atau Pasal 3 UU 31/1999 sebagaimana diubah dengan UU 20/2021 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP. Nilai kerugian negara diduga menembus angka lebih dari Rp1 triliun.
Berdasarkan Pasal 64 Ayat 2 UU 8/2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, pembagian kuota haji ditetapkan sebesar 92 persen untuk haji reguler dan 8 persen untuk haji khusus. Namun dalam praktiknya, tambahan 20 ribu kuota dari Pemerintah Arab Saudi dibagi rata masing-masing 50 persen untuk haji reguler dan 50 persen untuk haji khusus.
Tambahan kuota tersebut diperoleh setelah pertemuan bilateral Presiden ke-7 Joko Widodo dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman Al-Saud pada 19 Oktober 2023. Keputusan Menteri Agama Nomor 130/2024 yang diteken Yaqut pada 15 Januari 2024 mengatur pembagian 10.000 kuota haji reguler dan 10.000 kuota haji khusus.


