Jakarta – Pengamat politik Igor Dirgantara mendesak Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk lebih transparan kepada publik mengenai potensi dampak konflik Amerika Serikat–Israel dengan Iran terhadap ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.
Igor menilai ketersediaan BBM di Indonesia mulai berpotensi terganggu akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama karena pembatasan jalur strategis Selat Hormuz. Ia mengungkapkan terdapat kapal tanker pengangkut minyak mentah untuk Indonesia yang tertahan dan tidak dapat melintasi selat tersebut di dua titik.
“Ini artinya, Indonesia belum tentu bisa mendapatkan pasokan BBM dari negara tetangga dengan mudah,” ujar Igor, Senin (30/3/2026).
Direktur Eksekutif Survei dan Polling Indonesia (SPIN) itu menilai Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah dari Timur Tengah dan Amerika Serikat, sehingga akan sulit mencari alternatif pasokan dari wilayah lain. Ia juga menyebut negara-negara dengan daya beli lebih kuat seperti China, Jepang, dan Korea Selatan cenderung memiliki posisi tawar lebih besar di pasar energi.
Igor mendorong pemerintah, khususnya Kementerian ESDM, untuk menyampaikan secara terbuka berbagai potensi dampak dari dinamika global saat ini beserta langkah antisipasinya.
“Sebaiknya Menteri Bahlil lebih transparan mengenai potensi risiko terburuk beserta langkah antisipasinya, seperti penguatan cadangan energi strategis atau percepatan diversifikasi energi, ketimbang sekadar imbauan penghematan BBM kepada masyarakat,” katanya.
Igor juga menyinggung pentingnya akurasi informasi yang disampaikan kepada publik, merujuk pada pengalaman sebelumnya saat Menteri Bahlil disebut melaporkan kepada Presiden Prabowo bahwa listrik di Aceh dan Sumatera Utara sudah pulih, padahal kondisi sebenarnya belum sepenuhnya demikian.


