Jakarta – Analis komunikasi politik Hendri Satrio mengkritik pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi terkait kecelakaan kereta api di Bekasi. Menurutnya, pernyataan tersebut mencerminkan kesenjangan kualitas yang terjadi di Kabinet Merah Putih, Rabu, 29 April 2026.
Arifah sebelumnya mengusulkan agar gerbong khusus perempuan dipindahkan ke posisi tengah rangkaian kereta dengan alasan posisi tersebut dinilai lebih aman dari benturan saat kecelakaan.
Hendri Satrio, yang akrab disapa Hensa, menilai usulan tersebut tidak mencerminkan pemahaman yang tepat tentang konsep pemberdayaan perempuan.
“Kalau caranya melindungi perempuan hanya dengan memindahkan gerbong ke tengah, itu bukan pemberdayaan. Itu justru memperlihatkan bahwa kita masih melihat perempuan sebagai pihak yang harus digeser dan diamankan, bukan diperkuat,” ujar Hensa.
Hensa menyebut pernyataan Arifah sebagai salah satu bukti kesenjangan kualitas di kabinet saat ini dan mendorong adanya pembenahan.
“Quality gap ini kalau tidak segera dibenahi akan menjadi beban yang terus menumpuk. Bukan hanya beban kebijakan, tapi beban kepercayaan,” tegasnya.
Sebagai perbandingan, Hensa menilai respons Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) terhadap isu yang sama lebih tepat sasaran. AHY mendorong evaluasi sistem keselamatan kereta secara menyeluruh dan menegaskan bahwa keselamatan merupakan hak semua penumpang tanpa terkecuali.
“Ketika pejabat publik mampu menempatkan isu pada kerangka yang benar, itu artinya benar-benar merespons dengan orientasi menawarkan solusi,” kata Hensa.


