Jakarta – Politisi Partai Demokrat, Andi Arief, menilai fenomena masuknya militer ke ranah sipil harus dijadikan otokritik bagi masyarakat sipil atas lemahnya tata kelola pemerintahan yang dinilai koruptif dan tidak efektif.
“Salah satu teori masuknya militer ke ranah sipil adalah karena sipil enggak becus, lamban, tidak efektif dan korup. Akhirnya rakyat mendukung,” ujar Andi Arief, Minggu (3/5/2026).
Andi menegaskan dirinya bukan pendukung pelibatan militer di ruang sipil, namun ia mendorong publik untuk merenungkan apakah teori tersebut kini tengah terjadi di Indonesia. “Saya bukan pendukung militer masuk ke ruang sipil, tapi sebaiknya kita merenung jangan-jangan teori itu sekarang terjadi,” katanya.
Merujuk pada pengalamannya mempelajari hubungan sipil-militer di Universitas Gadjah Mada (UGM), Andi menjelaskan bahwa masuknya militer ke politik umumnya dipicu oleh gejala moral hazard di kalangan sipil. “Sipilnya banyak sekali kelemahan, sipilnya korup, sipilnya enggak efektif dalam birokrasi,” tuturnya.
Ia mencontohkan fenomena serupa yang terjadi di sejumlah negara Amerika Latin, Afrika, dan Asia Tenggara sejak era 1960-an, di mana ketidakmampuan pemerintahan sipil membuka jalan bagi militer untuk mengambil peran lebih besar.
Andi menilai kondisi ini seharusnya menjadi momentum perbaikan. “Ayo kalau mau ingin memperbaiki diri, menjadi profesional, tidak korup, ya ini sekarang waktunya,” paparnya.
Ia mengingatkan, jika tidak diikuti perbaikan nyata, kepercayaan publik terhadap institusi sipil akan terus merosot. “Mudah-mudahan ini hanya menjadi kritikan buat masyarakat sipil juga,” tutup Andi Arief.


