Jakarta – Presiden Asian Development Bank (ADB) Masato Kanda memperingatkan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia-Pasifik bisa turun ke level 4,2 persen pada 2026 jika ketegangan geopolitik terus memanas dan memicu lonjakan harga minyak.
Peringatan itu disampaikan Kanda dalam Pertemuan Tahunan ke-59 ADB di Samarkand, Uzbekistan, dikutip dari Reuters, Selasa, 5 Mei 2026.
Dalam skenario terburuk tersebut, inflasi kawasan juga diperkirakan melonjak hingga 7,4 persen, jauh di atas posisi 3,0 persen pada 2025. Bahkan dalam kondisi normal, ekonomi kawasan diperkirakan tetap melambat ke 4,7 persen tahun ini akibat tekanan harga energi dan ketatnya kondisi keuangan global.
Sebagai respons, ADB meluncurkan program ketahanan regional senilai 70 miliar dolar AS. Sebesar 50 miliar dolar AS dialokasikan untuk pembangunan jaringan listrik Pan-Asia guna mengintegrasikan energi terbarukan lintas negara, sementara 20 miliar dolar AS sisanya difokuskan untuk memperkuat konektivitas digital di kawasan.
ADB juga mencatat telah mengucurkan dukungan finansial sebesar 29,3 miliar dolar AS ke berbagai negara anggota sepanjang 2025.
“Tugas di depan memang berat, tetapi dengan sumber daya dan tekad bersama, kita punya strategi yang jelas untuk melaluinya,” kata Kanda.


