Teheran – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) setelah kedua negara kembali terlibat saling serang dalam dua hari terakhir. Ghalibaf, yang juga menjabat kepala negosiator Iran dalam perundingan dengan AS, menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dibalas.
Melalui unggahan di platform X pada Kamis (9/7/2026), Ghalibaf menyatakan Washington belum mengambil pelajaran dari konflik yang terus berulang.
“Amerika masih belum belajar bahwa intimidasi dan pelanggaran janji bukanlah hal yang tanpa konsekuensi. Izinkan saya menyatakannya dengan jelas: jika Anda menyerang, Anda akan diserang,” tulis Ghalibaf.
Ia juga menegaskan bahwa akses melalui Selat Hormuz hanya akan dibuka berdasarkan ketentuan yang ditetapkan Iran, bukan karena ancaman atau tekanan militer dari AS.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menyelesaikan operasi militer tambahan terhadap Iran. Serangan udara AS berlangsung dalam dua gelombang dalam 48 jam terakhir. Gelombang pertama pada Rabu (8/7) dini hari menghantam lebih dari 80 target militer sebagai respons atas insiden penyerangan tiga kapal komersial internasional di Selat Hormuz. Gelombang kedua pada Rabu malam menyasar sekitar 90 target di sepanjang pantai selatan Iran, termasuk sistem pertahanan udara, gudang rudal dan drone, serta infrastruktur logistik di sejumlah lokasi seperti Bushehr, Chabahar, Konarak, Bandar Abbas, dan Sirik.
Iran menyebut sedikitnya 14 orang tewas akibat serangan AS dalam dua hari terakhir. Teheran juga mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah aset dan lokasi yang berkaitan dengan kepentingan AS di kawasan Teluk. Militer Kuwait turut melaporkan pertahanan udaranya mencegat serangan rudal dan drone, sementara peringatan rudal juga berbunyi di Bahrain dan Qatar.
Memanasnya konflik ini berdampak langsung pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Organisasi pemilik kapal tanker independen Intertanko melaporkan jumlah kapal yang melintasi jalur tersebut turun drastis, dari sekitar 70 kapal per hari menjadi hanya sekitar 30 kapal. Bahkan kapal yang melintas di jalur selatan dekat Oman disebut tinggal dalam “angka satu digit”. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan stabilitas perdagangan internasional.
Eskalasi terbaru ini turut mengancam kesepakatan sementara (memorandum of understanding) yang sebelumnya menjeda permusuhan kedua negara selama 60 hari untuk memberi ruang bagi perundingan damai permanen.


