Beijing – Mantan Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji meninggal dunia pada usia 97 tahun di Beijing, Rabu (12/8/2026). Kantor berita resmi Xinhua menyebut penyebab kematiannya adalah sakit.
Zhu merupakan salah satu tokoh penting Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan pernah menjabat anggota Komite Tetap Politbiro Komite Sentral PKT ke-14 dan ke-15. Dalam obituari yang diterbitkan Partai Komunis Tiongkok, Zhu disebut sebagai anggota partai yang cemerlang.
Zhu lahir di Changsha, Provinsi Hunan, pada Oktober 1928. Ia lulus dari Universitas Tsinghua di Beijing dengan gelar teknik elektro dan sempat menjabat sebagai presiden serikat mahasiswa di kampus tersebut. Ia resmi bergabung dengan Partai Komunis Tiongkok pada Oktober 1949, saat republik baru yang dipimpin komunis itu didirikan.
Kariernya menonjol saat memimpin Shanghai. Ia menjabat Wali Kota Shanghai sebelum kemudian menjadi Sekretaris Komite Partai Shanghai, dan mendorong restrukturisasi industri serta pembangunan berorientasi ekspor di kota tersebut.
Pada 1991, Zhu diangkat menjadi wakil perdana menteri, bekerja di bawah pemimpin Partai Komunis saat itu, Jiang Zemin, memimpin modernisasi sistem perpajakan dan keuangan Tiongkok yang menjadi fondasi reformasi ekonomi. Ia juga berperan penting dalam memastikan kelancaran serah terima Hong Kong pada 1997, serta memimpin penanganan krisis keuangan Asia pada 1997 dan 1998.
Zhu resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Tiongkok pada Maret 1998. Ia dikenal sebagai otak di balik negosiasi aksesi Tiongkok ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001, yang membuka Tiongkok ke pasar internasional dan mendorong perubahan besar dalam perekonomian negara itu.
Dijuluki “bos ekonomi” Tiongkok, Zhu memimpin negara itu merangkul liberalisasi pasar dan globalisasi, mengarahkan transisi dari ekonomi terencana yang tertutup menjadi ekonomi yang lebih terbuka dan berorientasi pasar. Sikapnya yang tegas dan keras terhadap korupsi membuatnya dikenal sebagai “perdana menteri bertangan besi”, sekaligus mendapat dukungan luas dari publik Tiongkok.
Meski hampir sepenuhnya menghindari sorotan publik setelah pensiun dari jabatan perdana menteri pada 2003, warisan reformasinya tetap menjadi bahan perdebatan di Tiongkok. Kebijakannya membebaskan sumber daya tenaga kerja dan keuangan negara dalam skala besar turut menciptakan kekayaan besar selama tiga dekade berikutnya, meski juga menanamkan kerentanan pada sejumlah institusi.
Kepala Eksekutif Hong Kong John Lee Ka-chiu turut menyampaikan terima kasih atas dukungan Zhu terhadap kota tersebut, sekaligus menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergiannya.


