Batam โ Kota Batam menjadi tuan rumah Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-25 Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI). Kegiatan yang digelar di Swiss-Belhotel Harbour Bay itu diikuti sekitar 1.700 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, serta dari Malaysia, Kanada, dan Australia.
PIT tahun ini mengusung tema “Connecting Discovery to Practice: Rehabilitation Research for Community Empowerment”. Ketua Pengurus Pusat PERDOSRI, DR. Dr. Rumaisah Hasan, mengatakan PIT digelar secara periodik untuk memperbarui kompetensi dan keterampilan anggota. Lokasinya berpindah setiap tahun untuk mempererat silaturahmi antaranggota sekaligus membangun hubungan dengan pemerintah daerah.
“Acara ini sengaja dibuat berpindah-pindah lokasi setiap tahunnya. Tujuannya bukan hanya memperkuat silaturahmi antaranggota, tetapi juga membangun ikatan yang kuat dengan pemerintah daerah setempat,” kata Rumaisah.
Ia menyebut pemerintah kini memperkuat rehabilitasi dasar hingga tingkat Puskesmas. Menanggapi kebijakan itu, PERDOSRI menyiapkan kurikulum pelatihan bagi dokter Puskesmas sekaligus merumuskan standar pelayanannya.
Ketua Panitia PIT PERDOSRI XXV, Dr. Suroso Agus Widodo, mengatakan keanggotaan aktif PERDOSRI saat ini mencapai 1.362 dokter dan bertambah setiap semester. Saat ini terdapat tujuh pusat pendidikan yang telah meluluskan dokter spesialis rehabilitasi medik, lima pusat pendidikan baru dibuka, dan lima lainnya masih dalam proses. Sepuluh pusat pendidikan tambahan direncanakan ke depan.
Rangkaian PIT mencakup workshop, simposium, dan bakti sosial bagi masyarakat Batam. Panitia juga menyediakan partisipasi daring melalui webinar agar pelayanan rumah sakit di daerah tidak terganggu.
Pada 12โ17 Juni tahun depan, Indonesia akan menjadi tuan rumah Kongres International Society of Physical and Rehabilitation Medicine (ISPRM) di Bali.
Mewakili Wali Kota Batam, Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam dr. Anggrainie Nawang Wulan mengapresiasi kontribusi ekonomi para peserta bagi sektor pariwisata, kuliner, dan perhotelan. Ia menyebut layanan rehabilitasi medik di Batam merupakan pelayanan utama, mengingat Batam sebagai kota industri dengan jalan raya lebar yang kerap memicu kecelakaan lalu lintas, serta banyaknya pekerja di kawasan industri yang berisiko mengalami penyakit dan kecelakaan kerja.
“Infrastruktur bandara hingga jalan di Batam sangat lebar mencapai lima lajur. Sayangnya, hal ini sering memicu angka kecelakaan akibat laju kendaraan,” ujar Anggrainie.
Ia mengatakan Pemkot Batam membuka peluang bagi dokter maupun investor, termasuk lulusan luar negeri, yang ingin membangun fasilitas kesehatan rehabilitasi medis di Batam. Pemkot Batam juga memiliki alokasi anggaran khusus untuk menutup biaya layanan kesehatan esensial yang belum sepenuhnya ditanggung BPJS Kesehatan.


