Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 5,42% secara mingguan, 5,20% secara bulanan, dan 31,95% secara tahunan. Ekonom InFast Bestari, Gede Sandra, menyatakan pelemahan ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga melanda 11 bursa saham dunia, termasuk Rusia, Hong Kong, Afrika Selatan, India, Maroko, Sri Lanka, Ceko, Islandia, dan Kuwait.
Berdasarkan data Trading Economics, sebagian besar bursa yang mengalami penurunan berasal dari negara-negara yang tergabung dalam BRICS.
Gede memaparkan, secara mingguan lima bursa dengan penurunan terdalam adalah Rusia (MOEX) yang turun 9,72%, disusul Afrika Selatan (SA40) sebesar 6,02%, Indonesia (JCI) sebesar 5,42%, Hong Kong (HK50) sebesar 3,70%, dan Maroko (MASI) sebesar 1,40%.
Secara bulanan, penurunan terbesar tercatat pada bursa Rusia (-13,65%), Hong Kong (-8,54%), Islandia (-7,19%), Afrika Selatan (-6,14%), dan Indonesia (-5,20%).
Sementara secara tahunan, penurunan terdalam justru dialami Indonesia (-31,95%), diikuti Rusia (-18,91%), Hong Kong (-8,66%), India (-8,07%), dan Islandia (-7,71%).
| No | Pasar Saham | Mingguan | Bulanan | Tahunan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | MOEX (Rusia) | -9,72% | -13,65% | -18,91% |
| 2 | HK50 (Hong Kong) | -3,70% | -8,54% | -8,66% |
| 3 | SAAL (Afrika Selatan) | -5,34% | -5,32% | -5,18% |
| 4 | PX (Ceko) | -1,08% | -0,79% | -4,67% |
| 5 | ICEX (Islandia) | -0,98% | -7,19% | -7,71% |
| 6 | JCI (Indonesia) | -5,42% | -5,20% | -31,95% |
| 7 | ASPI (Sri Lanka) | -0,79% | -0,70% | -1,84% |
| 8 | Kuwait All Share | 1,19% | -1,77% | -2,22% |
| 9 | NIFTY50 (India) | -0,27% | -0,04% | -8,07% |
| 10 | SA40 (Afrika Selatan) | -6,02% | -6,14% | -5,97% |
| 11 | MASI (Maroko) | -1,40% | -4,08% | -3,95% |
Sumber: Trading Economics
Gede menjelaskan, meski bursa saham melemah, pertumbuhan ekonomi riil atau PDB di sebagian besar negara tersebut justru berada di atas rata-rata pertumbuhan dunia sebesar 3,2%. Pengecualian terjadi pada Rusia yang mengalami kontraksi 0,2% dan Afrika Selatan yang hanya tumbuh 1,9%.
Sebaliknya, India tercatat tumbuh 7,8% pada kuartal I 2026, Indonesia tumbuh 5,6% pada periode yang sama, China tumbuh 5,0%, dan Maroko tumbuh 5%.
“Ini menunjukkan sebuah fenomena ekonomi yang disebut sebagai decoupling, artinya berpisah jalan, antara sektor riil dan pasar saham,” kata Gede.
Ia menambahkan bahwa kinerja pasar saham tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat sehari-hari, sebagaimana terjadi pada era pandemi Covid-19 ketika harga saham melonjak akibat stimulus quantitative easing, meski pertumbuhan ekonomi riil global justru negatif.
Gede juga menyoroti langkah pemerintahan Prabowo Subianto dalam mengatasi kebocoran penerimaan devisa akibat praktik under-invoicing, melalui pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang ditugaskan menyelenggarakan bursa serta mewajibkan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE).
Menurut Gede, kebijakan tersebut berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang melalui peningkatan penerimaan negara. Namun, ia mengakui bahwa dalam jangka pendek, ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang belum tuntas masih menjadi faktor utama yang membuat pasar saham bergerak fluktuatif.
Ia menilai perbaikan struktural lain di sektor kelembagaan dan tata kelola kebijakan, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), juga perlu menjadi perhatian mendesak pemerintah.


