Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) alias Whoosh ternyata belum bisa “ngebut” soal cuan, geng. Bukannya untung, proyek kebanggaan ini malah bikin negara tekor triliunan rupiah.
Menurut analis politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, Whoosh sejak awal sudah bermasalah dari sisi tata kelola alias good governance. “Dari awal pembangunan, banyak hal yang nggak sesuai prinsip pemerintahan yang baik,” katanya di acara Rakyat Bersuara di iNews, Rabu (22/10/2025).
Data yang diungkap Ubedilah juga bikin geleng kepala.
- Tahun pertama operasi (2024): rugi Rp4,1 triliun
- Semester pertama 2025: tambah rugi Rp1,6 triliun
Artinya, belum dua tahun jalan aja, total kerugiannya sudah tembus Rp5,7 triliun!
Ubedilah bilang, kerugian itu bisa jadi beban besar kalau terus ditutup pakai APBN (uang negara). “Ini proyek rugi. Kalau nanti dibebankan ke APBN, ya makin berat aja buat negara,” ujarnya.
Banyak pengamat juga sependapat: Whoosh belum efisien dan perlu diaudit total biar jelas uangnya ke mana. Soalnya, beberapa nama besar kayak Luhut Pandjaitan juga disebut-sebut harus ikut tanggung jawab atas proyek ini.
Netizen pun mulai ramai bahas: “Jadi kapan nih Whoosh balik modal?”
Quick recap buat kamu:
- Proyek Whoosh udah rugi Rp5,7 triliun.
- Diduga bermasalah dari awal, nggak efisien.
- Potensi jadi beban APBN kalau terus merugi.
Menurut kamu, proyek kayak Whoosh ini masih layak lanjut nggak?


