Batam — Kota Batam tidak masuk dalam daftar 10 kota paling maju di Sumatera berdasarkan hasil Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 yang dirilis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Berdasarkan data yang diolah GoodStats, peringkat pertama ditempati Kota Medan dengan skor 4,32, disusul Padang (4,25), Pekanbaru (4,24), Palembang (4,23), Metro (4,19), Tanjungpinang (4,17), Bandar Lampung (4,14), Bukittinggi (4,11), Bengkulu (4,07), dan Jambi (4,06).
Hasil tersebut berbeda dengan citra Batam yang selama ini dikenal sebagai motor penggerak ekonomi nasional dengan investasi yang terus memecahkan rekor, pembangunan infrastruktur masif, serta pertumbuhan kawasan industri, logistik, dan pusat data yang pesat.
Metodologi penilaian IDSD BRIN mengacu pada kerangka Global Competitiveness Index (GCI) dari World Economic Forum (WEF), yang terdiri atas empat pilar utama, yaitu lingkungan pendukung, sumber daya manusia, pasar, dan ekosistem inovasi. Keempat pilar tersebut diurai menjadi 12 pilar dan puluhan indikator, mencakup kualitas pendidikan dan kesehatan, tingkat inovasi, efisiensi birokrasi, kesiapan digital, aktivitas riset, hingga kualitas institusi pemerintahan.
Dengan standar penilaian yang bersifat multidimensional tersebut, daerah dengan capaian investasi tinggi tidak otomatis menempati peringkat teratas apabila masih memiliki kelemahan pada indikator penunjang lainnya.
Di sisi lain, Batam tercatat memiliki sejumlah keunggulan sebagai pusat bisnis dan industri di wilayah barat Indonesia. Realisasi investasi Batam merupakan yang tertinggi di luar Pulau Jawa, didukung status Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (FTZ), kawasan industri berstandar internasional, serta pelabuhan dan bandara internasional. Kota ini juga menjadi pusat manufaktur elektronik nasional dengan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional, dan tengah berkembang menjadi pusat data center serta kecerdasan buatan (AI).
Meski demikian, aspek ekonomi makro tersebut hanya menjadi sebagian dari variabel penilaian IDSD. Faktor lain seperti kualitas riset daerah, produktivitas inovasi, standar pelayanan publik, tata kelola pemerintahan, tingkat pendidikan masyarakat, dan kematangan ekosistem inovasi memiliki bobot penilaian yang sama penting.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyatakan pemerintah kota kini memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi masa depan kota, seiring dengan pembangunan fisik yang telah berjalan.
“Anak-anak yang lolos seleksi kami berikan beasiswa. Sekarang sudah ada 7 kampus unggulan di Indonesia, dengan tujuan mendorong tingkat pendidikan dan kualitas di Batam,” kata Amsakar.
Pemerintah Kota Batam menyatakan akan terus mendorong sinergi antara pertumbuhan ekonomi dari sektor industri dan investasi, akselerasi kualitas SDM, serta perbaikan tata kelola, agar Batam tidak hanya unggul secara ekonomi, tetapi juga tampil kompetitif secara holistik dalam peta daya saing nasional di masa mendatang.


