Batam – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dolar Singapura, dan ringgit Malaysia mulai menekan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Batam. Kenaikan harga bahan baku yang masih bergantung pada impor membuat biaya produksi meningkat.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam, Salim, mengatakan pelaku UMKM disarankan menyesuaikan ukuran atau porsi produk apabila biaya produksi meningkat, bukan mengurangi kualitas bahan baku. “Jangan sampai karena harga bahan baku naik, kualitas produk ikut diturunkan. Misalnya produk makanan yang sebelumnya menggunakan bahan tertentu dalam jumlah tertentu kemudian dikurangi. Itu berisiko membuat konsumen kecewa. Jika memang harus menyesuaikan, sebaiknya ukuran atau porsinya yang dikurangi, tetapi kualitas harus tetap dijaga,” ujarnya.
Ia mengatakan pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap kenaikan biaya produksi, ditambah kenaikan harga energi yang turut mendorong meningkatnya biaya operasional pelaku usaha. “Kalau harga minyak naik, hampir semua bahan ikut naik. Dampaknya tentu dirasakan UMKM,” katanya.
Meski demikian, Salim menyatakan UMKM tetap menjadi sektor yang tangguh menghadapi gejolak ekonomi, merujuk pada pengalaman saat pandemi Covid-19 di mana pelaku UMKM mampu bertahan melalui berbagai inovasi termasuk pemasaran digital.
Untuk memperkuat daya tahan UMKM, Pemerintah Kota (Pemko) Batam menyiapkan fasilitas pinjaman modal dengan bunga atau margin nol persen sebagai program prioritas Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam. “Kalau terkendala modal, pemerintah sudah menyiapkan fasilitas pinjaman. Bunganya kami yang bayar. Dana itu bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi, memperluas pasar, atau kebutuhan usaha lainnya,” jelas Salim.
Selain pembiayaan, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam juga meningkatkan kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan dan bimbingan teknis. Hingga pertengahan tahun ini, lima angkatan pelatihan telah digelar dengan materi mencakup pengurusan legalitas usaha, pengolahan produk kreatif berbasis barang daur ulang, hingga pemasaran digital melalui platform e-commerce dan media sosial.
Salim menambahkan, pelemahan rupiah juga membuka peluang bagi UMKM Batam karena menguatnya dolar Singapura dan ringgit Malaysia dinilai meningkatkan daya beli wisatawan dari kedua negara tersebut saat berkunjung ke Batam. Ia mendorong pelaku UMKM menghadirkan produk berkualitas agar belanja wisatawan mancanegara memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah.


