Jakarta — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia mengalihkan sumber impor minyak mentah ke sejumlah negara alternatif, termasuk Angola, Nigeria, Amerika Serikat, dan Rusia. Pernyataan itu disampaikan Bahlil di Jakarta, Minggu (3/5/2026).
“Begitu terjadi perang saya merubah pola. Ilmu pengusaha saya keluar, kalau di sini tidak bisa ya kita cari di tempat lain,” kata Bahlil.
Bahlil menyebut pemerintah telah mengamankan kontrak pasokan minyak mentah dari Rusia untuk satu tahun ke depan.
“Di Rusia kita sudah dapat, satu tahun ini clear. Jadi untuk stok crude kita satu tahun ke depan insya Allah sudah selesai,” ujarnya.
Indonesia juga berencana mendatangkan sekitar 150 juta barel minyak mentah dari Rusia hingga akhir 2026. Skema pengadaan tersebut saat ini masih dalam proses finalisasi.
Bahlil menjelaskan diversifikasi sumber impor dilakukan untuk menjaga ketersediaan energi di tengah ketidakpastian global, termasuk risiko gangguan distribusi di jalur Selat Hormuz.
“Jadi kalau saya, kalau Bapak Presiden saya temani, Bapak Presiden berangkat untuk cari minyak itu bukan jalan-jalan, kita jalan kerja memikirkan 280 juta jiwa yang ada di bangsa ini,” tegasnya.
Kebutuhan BBM nasional saat ini mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 605 ribu barel per hari. Untuk menutup defisit produksi, pemerintah tengah mengoptimalkan sumur migas tua dan mendorong eksplorasi blok migas baru.


