Kinerja perusahaan pembiayaan alias multifinance (kayak leasing mobil, motor, atau barang konsumtif) lagi melambat parah nih di 2025. Berdasarkan data OJK (Otoritas Jasa Keuangan), total piutang multifinance per September 2025 cuma tumbuh 1,07% year-on-year (YoY), padahal tahun lalu masih ngebut di 9,39%.
Artinya, permintaan masyarakat buat kredit barang atau kendaraan turun tajam โ tanda daya beli masyarakat lagi lemah. Bahkan, dari Agustus 2025 aja udah mulai kelihatan melambat ke 1,26%.
Meski begitu, OJK bilang kondisi multifinance masih aman secara risiko. Rasio pembiayaan bermasalah (NPF) masih di level sehat:
- 2,47% (gross)
- 0,84% (net)
Sementara itu, rasio utang (gearing ratio) juga cuma 2,17 kali, jauh di bawah batas aman OJK yang 10 kali.
Tapi menariknya, di tengah kelesuan ini, laba multifinance justru naik 10,54% secara bulanan, jadi Rp16,14 triliun per September 2025. Kok bisa? Karena banyak perusahaan mulai geser strategi โ dari pembiayaan konsumtif ke pembiayaan modal kerja dan efisiensi biaya dana.
Menurut OJK, penyebab utama lesunya bisnis multifinance tahun ini adalah daya beli masyarakat yang belum pulih. Walau begitu, mereka tetap optimis sektor ini bisa menutup 2025 dengan performa positif.
Singkatnya:
- Pertumbuhan kredit multifinance: ๐ข Melambat ke 1,07%
- Daya beli masyarakat: ๐ธ Masih lemah
- Risiko keuangan: โ Aman
- Laba industri: ๐ Naik 10,5%
- Fokus baru: ๐ผ Pembiayaan modal kerja
Kamu sendiri, masih kepikiran beli motor kredit tahun ini, atau nunggu dompet pulih dulu nih?


